novel dari jendela smp
fiksi,  ulasan

Novel Dari Jendela SMP: Sinopsis dan Review

Novel Dari Jendela SMP merupakan sebuah novel remaja karya Mira W, seorang sastrawan Indonesia. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1983. Novel Dari Jendela SMP ini telah diadaptasi ke dalam sebuah sinetron di salah satu stasiun televisi yang diproduksi oleh SinemArt. Kukira itu murni sinteron, bukan adaptasi dari novel. Tetapi orang-orang mengatakan bahwa sinetron tersebut diadaptasi dari novel remaja yang bagus sehingga mereka berekspektasi tinggi terhadap sinetron remaja tersebut. Akhirnya aku penasaran dan di Ipusnas aku menemukan novel tersebut dengan stok yang masih banyak. Oke, akhirnya aku bisa membacanya meski aku tidak menonton sinetronnya. Jadi, jangan tanyakan bagaimana perbandingan novel dengan sinetronnya ya, di sini aku sedang membahas bukunya, bukan sinetronnya, titik. No debat.

Identitas Buku

Judul: Dari Jendela SMP

Pengarang: Mira W

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2009 (cetakan ketiga belas)

Ukuran buku: 352 hlm; 18 cm

EISBN: 978 602 06 0379 7

Sinopsis Novel Dari Jendela SMP

Namanya Joko. Teman-temannya biasanya memanggilnya Jab. Joko Anak Babu. Bahkan beberapa menjulukinya anak haram, karena ia memang terlahir tanpa diketahui siapa bapaknya. Tetapi hubungan Joko dengan teman-temannya sebenarnya tidak sehitam putih itu kok, Joko dan teman-temannya tetap akrab. Panggilan tersebut meski terdengar merendahkan tetapi sudah terlanjur menjadi panggilan sayang teman-temannya kepada Joko. Ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga. Setiap hari, Joko bekerja membersihkan kelas sebagai balas budi kepada kepala sekolah yang telah menanggung biaya sekolahnya. Meskipun Joko anak babu, jangan salah, ia anak pintar, tampan, berbadan tegap, dan berani. Pokoknya, di mata kepala sekolahnya terlihat jantan dan macho lah. Joko memenuhi standar maskulinitas lelaki yang ada dalam masyarakat. Oleh karena itu, kepala sekolahnya sangat membanggakan muridnya yang satu ini.

Ada seorang teman perempuannya yang akhir-akhir ini menawan hati Joko. Ia adalah Wulan, sang ketua kelas. Perasaan itu tumbuh semenjak Wulan melerai perkelahian dirinya dengan Gino, salah satu teman sekelasnya. Akan tetapi, sebagai anak babu, Joko kadang merasa minder. Ia tahu Wulan anak orang kaya. Pada akhirnya, Joko tetap memantapkan hatinya untuk memperjuangkan cinta remajanya.

Tetapi merealisasikan bayangan-bayangan indah tentang cinta masa remaja ternyata tak seindah imajinasinya. Joko harus menghadapi realita bahwa berat bagai anak tanpa privilese seperti dirinya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk berharap perjalanan cintanya bersama Wulan akan berjalan mulus. Apalagi setelah Joko ketahuan mencuri mangga untuk oleh-oleh menjenguk Wulan sakit. Ayahnya Wulan tidak sudi anaknya memiliki pacar seorang maling. Karena satu kesalahan tersebut, citra baik Joko yang tadinya sudah membuat ayah Wulan kagum jadi menguap begitu saja.

Ketika masa SMP sampai di penghujung, hubungan Joko dan Wulan diuji. Wulan jelas akan melanjutkan pendidkannya ke SMA. Adapun Joko, impiannya untuk masuk SMA bersama dengan Wulan harus kandas. Ia tidak memiliki biaya untuk lanjut sekolah. Meskipun ibunya memintanya untuk melanjutkan sekolah, Joko memilih untuk bekerja. Ia tidak ingin menyusahkan ibunya dan tak ingn menambah utang budinya kepada Pak Kepala Sekolah. Ia juga ingin mencari ayah biologisnya. Ia sering menyesal mengapa ia tak memiliki ayah. Akan teetapi jalan hidup yang Joko pilih membuat ia akhirnya mengetahui siapa bapak haramnya. Fakta mengenai ayah biologisnya tersebut juga mengguncang hati Joko karena ia adalah orang yang tak pernah ia sangka. Joko menjadi kehilangan arah. Ia melarikan diri dari rumah, mabuk-mabukan, dan menjadi buronan polisi karena tidak sengaja memukul pemilik warung dengan botol miras. Sepulang dari persembunyiannya, Joko tambah sesak setelah mendapat kabar wulan hamil dan sebentar lagi akan menikah dengan seorang arsitek.

Review Novel Dari Jendela SMP

Aku mengetahui judul novel ini dari sebuah sinteron yang tayang di salah satu stasiun televisi dengan judul yang sama. Akan tetapi aku tidak tahu jika teenlit ini ditulis oleh Mira W, sosok penulis yang namanya sering disebut-sebut Ibuku ketika kami sedang membicarakan karya sastra (widiihh, sok iye banget). Karena aku lebih dulu tahu sinetronnya daripada novelnya, aku jadi membayangkan kalau Joko adalah Rey Bong tetapi Wulan bukan Sandrina. Yah, memang adaptasi visual secara tidak langsung mempengaruhi imajinasi pembaca. Oleh karena itu aku lebih suka membaca cerita sebelum tahu versi adaptasinya (jika ada), atau visual tokohnya (jika di platform baca online seperti Wattpad.

Novel ini adalah gambaran dari keluguan serta keingintahuan para remaja tanggung. Awalnya kukira novel ini adalah teenlit jadul yang isinya tidak jauh beda dengan teenlit-teenlit pada umunya yang penuh dengan kisah romansa remaja. Tetapi ternyata Dari Jendela SMP lebih dari sekedar roman picisan. Tidak heran jika mengingat siapa penulisnya. Kenakalan remaja, orang tua diktator, dan pendidikan seks yang masih dianggap tabu menjadi bagian dari jalan cerita novel remaja ini.

Pendidikan Seks yang Masih Dianggap Tabu

Pada novel Dari Jendela SMP diceritakan bahwa beberapa guru-guru di sekolah Joko dan Wulan menganggap bahwa pendidikan seks belum waktunya diajarkan kepada anak-anak SMP. Masih terlalu dini katanya. Keributan ini berawal dari guru olahraga baru yang bernama Bu Sunarti. Sebenarnya Bu Sunarti lulusan kedokteran. Akan tetapi studinya tidak selesai dan akhirnya berkarier sebagai guru pendidikan jasmani dan kesehatan. Karena tidak berlatar belakang pendidikan olahraga, Bu Sunarti lebih banyak mengajarkan teori kesehatan daripada praktek olahraga di lapangan. Bu Sunarti kerap memberikan penjelasan tentang kesehatan reproduksi remaja dan sex education. Bu Sunarti merasa pengetahuan ini perlu diberikan kepada anak-anak didiknya karena mereka belum mendapatkannya dari guru biologi, sementara mereka telah memasuki usia pubertas. Pengetahuan ini juga diberikan agar remaja tahu bagaimana cara menjaga dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Akan tetapi sebelum Bu Sunarti menyelesaikan materinya, ia sudah terlebih dulu diberhentikan karena sentimen dari guru biologi.

Meskipun aku belum lahir saat novel ini pertama kali diterbitkan, tetapi aku masih merasakan bahwa pendidikan seks juga dianggap tabu. Apalagi pada masa-masa novel ini diterbitkan. Kurasa penulis menggunakan novel ini untuk menyuarakan apa yang selama ini ditabukan padahal sebenarnya diperlukan.

Tokoh Bu Sunarti adalah guru guru dan juga orang tua-orang tua di luar sana yang berusaha untuk melawan stigma tabu pada pendidikan seks untuk remaja. Yang tidak menghindar dan mengalihkan pembicaraan ketika murid-muridnya bertanya tentang perubahan tubuh mereka. Yang tidak menunda-nunda jawaban sampai mereka dewasa ketika anak-anaknya bertanya tentang masa pubertas yang belum mereka pahami. Yang bersedia menerangkan tentang pendidikan seksual sesuai umur mereka. Tetapi aku tidak bisa menyalahkan kepada orang-orang tua yang memang berusaha menghindari pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke topik seksual. Pendidikan seks saat dulu aksesnya tidak semudah sekarang. Jika zaman ini yang aksesnya lebih mudah saja orang tua masih enggan, apalagi jaman novel ini terbit.

Akan menjadi bahaya jika sampai anak dewasa belum tahu menahu tentang fungsi reproduksi mereka. Seperti halnya Wulan yang mendapatkan kehamilan yang tidak disangka-sangka. Karena ia dan teman-temannya hanya mendapatkan pendidikan seks setengah-setengah.

Orang Tua Diktator

Setiap anak pasti menginginkan hubungan yang baik dengan orang tuanya. Begitu pula sebaliknya. Orang tua juga pasti ingin anaknya kelak tumbuh menjadi manusia yang baik dan berguna. Tapi tidak jarang hal tersebut menjadikan orang tua terlalu menuntut anak untuk mengikuti apa yang orang tua inginkan. Jika anak tidak sesuai dengan ekspektasi orang tua, orang tua lantas menyalahkan bahkan sampai main tangan terhadap anaknya. Ini seperti yang digambarkan penulis melalui tokoh Pak Prapto (kepala sekolah Joko). Anak Pak Prapto yang bernama Indro adalah teman sekelas Joko dan Wulan. Berbeda dengan perawakan dan perangai Pak Prapto yang tegap, tegas, dan berwibawa, Joko justru tumbuh menjadi anak yang lembek dan lemah. Bicaranya gagap. Ia sangat penakut, apalagi mengenai sesuatu yang berhubungan dengan ayahnya. Ia juga sulit menerima pelajaran di sekolah. Pak Prapto sebagai bapak terlalu keras mendidiknya. Ia berharap Indro bisa seperti dirinya. Pak Prapto selalu membanding-bandingkan Indro dengan Joko.

Bagian Menarik dari Novel Dari Jendela SMP

Bagian menarik dari novel Dari Jendela SMP ini adalah ketika ayah biologis Joko meminta perjuangan Joko agar mendapatkan pengakuannya. Bapaknya mengatakan bahwa jika Joko ingin menjadi anaknya, maka ia harus berusaha agar kira-kira pantas untuk mendapat pengakuan dari bapaknya tersebut.

“’Kalau kamu ingin jadi anakku,” katanya perlahan sehingga hanya mereka bertiga yng mendengar suaranya, “buktikan kamu pantas untuk itu.”

Joko melepaskan pelukan ibunya. Ditatapnya laki-laki itu dengan dingin.

‘Apapun yang saya lakukan,’ katanya tawar, ‘Bapak tidak pantas jadi ayah saya.’”

(hlm. 341)

Aku senang dengan jawaban Joko. Anak yang lahir dari bapak yang tidak bertanggung jawab tidak memerlukan pengakuan bapaknya. Bapaknya lah yang tidak punya hak terhadap anaknya. Enak saja, sudah punya anak, tidak berani mengaku, eh, pas anaknya besar minta anaknya untuk mengemis-ngemis pengakuan padanya. Duh, kok saya jadi emosi ya, hmm.

Novel ini tidak hanya menyajikan permasalahan yang dialami paa remaja tetapi juga mengutarakan bagaimana mengyelesaikan permasalahan yang sudah terlanjut terjadi karena terlambat mencegah. seperti pada kasus kehamilan Wulan. Adalah manusiawi ketika orang tua Wulan merasa kecewa sekaligus merasa bersalah tidak bisa melindungi anak gadisnya. Hanya menyalahkan anak tidak akan menyelesaikan masalah. Yang lebih penting adalah memikirkan bagaimana ia akan melangsungkan kehidupannya di masa yang akan datang. Bagaimanapun juga remaja seperti WUlan masih perlu untuk banyak belajar.

Selain itu, ada beberapa yang kurasa agak membingungkan. Novel ini kan diterbitkan pertama kali pada tahun 1983. Akan tetapi, tokoh-tokoh dalam novel ini sudah mengenal HP dan internet. Cetakan yang kubaca juga idak mencantumkan edisi revisi. Ini bagaimana ya? Ada yang mau berdiskusi mungkin? Bisa ditulis di komentar.

Penutup

Jika teman-teman mencari teenlit yang bagus dan tidak menye-menye, novel Jendela SMP bisa teman-teman pilih. Oke teman-teman, demikian review novel Dari Jendela SMP di blog ini. Kalau ada diskusi bisa tulis di kolom komentar ya. Teman-teman di sini ada yang pernah baca novel Dari Jendela SMP juga kah? Menurut teman-teman bagaimana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.