novel demi kehormatan sandra brown
fiksi,  ulasan

Review Novel Demi Kehormatan-Sandra Brown (Harlequin Series)

Sebenarnya aku menemukan novel ini secara tidak sengaja. Saat itu aku sedang ingin membaca novel Harlequin. Karena aku belum pernah membaca novel-novel Harlequin, aku mencari referensi dengan membaca beberapa ulasan novel-novel Harlequin dari orang-orang yang telah membacanya. Akhirnya pilihan jatuh kepada novel Harlequin yang berjudul Demi Kehormatan (Honor Bound) karya Sandra Brown. Jadi, bisa dibilang, ini novel Harlequin sekaligus karya Sandra Brown yang pertama kali kubaca meski nama Sandra Brown cukup familier. Di Ipusnas, novel ini banyak mendapatkan pujian dan ulasan yang bagus. Hampir semuanya yang mengulas mengatakan ini bagus dan merupakan karya Sandra Brown yang terbaik. Sebagai orang yang mau membaca Harlequin sekaligus karya Sandra Brown untuk pertama kali, ulasan-ulasan tersebut membuatku semakin tertarik untuk membacanya. Pikirku, novel ini sepertinya memang keren ya… Dan setelah kubaca, begini lah novel tersebut menurut pendapatku. Berikut ulasannya.

Identitas Buku

Judul: Demi Kehormatan (Honor Bound) 

Pengarang: Sandra Brown

Penerjemah: Sutanty Lesmana

Tahun Terbit: 2018 (cetakan kelima)

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Ukuran Buku320 hlm; 18 cm

E-ISBN: 9786020386409

Sinopsis Novel Demi Kehormatan (Honor Bound) – Sandra Brown

Novel ini bercerita tentang kisah Aislinn, gadis dari kalangan orang kulit putih, dan Lucas Greywolf, seorang napi Indian yang kabur dari penjara karena ingin menengok kakeknya yang sedang kritis. Ia dipenjara karena dituduh membuat kerusuhan setelah memimpin demonstrasi di gedung pengadilan di Phoenix. Cerita bermula ketika Greywolf mauk ke rumah Aislinn untuk bersembunyi dari kejaran polisi dan menyandera Aislinn, yang merupakan orang kulit putih. Greywolf memiliki sentimen terhadap orang kulit putih karena luka masa lalu. Ia dan orang-orang sesukunya pernah menjadi korban kebohongan dan keserakahan oknum orang-orang kulit putih. Aislinn merasa ketakutan, dan selalu gagal meloloskan diri dari penyanderaan Greywolf. Tetapi di sisi lain, Aislinn merasa ada perasaan lain yang membuat dirinya tidak bisa menjauh dari Greywolf. Begitu pula Greywolf yang sebenarnya menyadari bahwa Aislinn tidak turut membuat masalah bagi hidupnya, dan ia tidak tahu mengapa ia menyandra Aislinn.

Singkat cerita, hati mereka timbul perasaan tertarik tapi tidak ingin mengakui. Greywolf sendiri yang keras kepala dan meyimpan dendam terhadap orang-orang kulit putih selalu menyangkal perasaannya terhadap Aislinn. Sementara Aislin sendiri dilanda kebingungan dengan perasaannya terhadap Greywolf, yang seharusnya ia benci karena telah melibatkannya de dalam maslaahnya dan menyanderanya. Akan tetapi, pandangan Aislin terhadap Greywolf berubah setelah ia bertemu dengan kauarga Greywolf di kawasan kampung orang-orang Indian, dan mengetahui siapa sebenarnya Greywolf dan hal-hal besar yang telah ia lakukan.

Baca juga: Review Novel The Professor-Charlotte Bronte

Review Novel Demi Kehormatan (Honor Bound) – Sandra Brown

Sebelumnya aku mohon maaf jika ulasan ini memuat unsur nyinyir.

Entah kenapa aku tidak sepenuhnya merasa bahwa novel ini sangat bagus sebagaimana ulasan orang-orang. Bagian awal ini dibuka dengan romantisasi tindak kekerasan menurutku. Aislinn disandera Greywolf, diancam dengan pisau, dan berbagai sikap kurang ajar Greywolf terhadap Aislin. Memang diceritakan ia merasa ketakutan, tapi di sisi lain, Aislinn dibuat terpesona dan jatuh cinta pada Greywolf. Ketika para polisi akhirnya menemukan Greywolf dan menanyai Aislinn, Aislinn tidak menganggap Greywolf telah melakukan kejahatan terhadapnya. Ia justru menutupi kejahatan Greywolf untuk membelanya. Apakah ini bisa disebut sebagai sindrom Stockholm?

Baca juga: ulasan novel The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde (novel yang membahas bipolar)

Meski aku sulit menerima ide cerita pada bagian awal, tapi aku tetap melanjutkan untuk membacanya karena berharap menemukan hal yang membuat Aislinn dapat meloloskan diri dari Greywolf. Akan tetapi, sampai halaman 80 dari 300an halaman novel ini, aku tak kunjung menemukannya. Alih-alih, Aislinn malah semakin menderita, tapi rasa terpesonanya belum hilang dan Greywolf tetap sinis dan mengendalikan Aislinn, tapi tidak ingin menyakitinya. Tapi bab berikutnya mulai mengurai permasalahan satu demi satu.

Meskipun demikian, perasalahan sentimen orang-orang Indian dan kulit putih yang diangkat dalam cerita ini memang menarik. Kebencian yang berlebihan terhadap sautu golongan menyebabkan generalisasi terhadap golongan tersebut. Sehingga jika ada orang yang benar-benar tulus dalam golongan yang dibenci tersebut, ketulusan itu tidak ada artinya. Sebagaimana Aislinn yang sebenarnya tidak ada urusannya dengan permasalahan Greywolf. Ketika Aislin mencoba untuk bersikap baik kepada Greywolf, Greywolf selalu meresponnya dengan sinis dan penuh curiga. Kebencian orang Indian terhadap orang kulit putih didasari oleh kesewenangan oknum orang kulit putih yang merasa lebih superior. Orang-orang Indian telah banyak dihina, direndahkan, diodoh-bodohi, dan dirampas haknya. Melalui novel ini penulis sepertinya ingin menyuarakan kritik terhadap kesenjangan tersebut.

Novel ini juga sedikit memberi gambaran tentang bagaimana pergaulan laki-laki dan perempuan di AS (sedikit gambaran ya, bukan generalisasi) dan sisi lain kehidupan sosial orang-orang Amerika. Cerita ini berlatar Arizona hingga perkampungan terpencil milik orang-orang Indian. Dalam cerita ini perkampungan Indian itu digambarkan sebagai lingkungan tempat tinggal yang cukup memprihatinkan. Kemiskinan dalam kampung ini tak terlihat oleh orang-orang luar sehingga menimbulkan simpati di hati Aislinn untuk mengungkapkan keadaan kampung ini lewat profesinya sebagai fotografer. Masyakaratnya yang terlalu terpaku dengan tradisi dan tidak mau menerima hal baru membuat lingkungan ini tertinggal, seperti yang dilakukan oleh kakek Greywolf, kepala suku di kampungnya.

Salah satu bagian menarik adalah percapakan Aislinn dan Greywolf tentang kontrasnya perjuangan orang Indian dan kulit putih untuk mendapatkan kesuksesan. Orang-orang kulit putih lebih berprivilese. Hal ini membuat orang-orang Indian harus berjuang mati-matian untuk sekedar bisa menempuh kuliah. Greywolf yang terlanjur menaruh stereorip terhadap orang-orang kulit putih selalu membanding-bandingkan hidupnya dan mengaitkan penderitaan hidupnya dengan orang kulit putih, termasuk Aislin yang tidak bersalah.

“…………………………

‘Seolah-olah aku mesti merasa bersalah karena punya rambut pirang dan mata biru.’

‘Aku tahu orang seperti kau akan sulit memahami ini, tapi orang yang tersisih seperti aku mesti berprestasi dalam satu bidang tertentu. Sementara kau dan rekan-rekan kulit putihmu asyik menikmati pergaulan kampus, aku belajar mati-matian.'”(hlm. 114).

Awalnya kukira novel ini untuk 18+ tapi setelah aku melihat halaman sampul belakang usai membaca, ternyata 21+. Jadi, lebih baik jika novel ini dibaca untuk 21 tahun ke atas. Meski novel ini berbicara tentang kesenjangan sosial, unsur romantis (dan dibumbui dengan erotis) tetap menjadi yang paling dominan dalam novel ini. Plot dalam novel ini cukup seru. Banyak hal-hal tidak terduga dan mengejutkan. Meski terkesan kurang realis, novel ini memberikan ending yang menyenangkan pembaca.

Sekian ulasanku dari nove Harlequin yang berujudul Demi Kehormatan (Honor Bound) yang ditulis oleh Sandra Brown ini. Kalau ada diskusi atau pendapat baru, boleh disampaikan di kolom komentar.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.