novel Geni Jora
fiksi,  ulasan

Ulasan Novel Geni Jora: Ketika Bintang Menjelma Api yang Berkobar

Novel Geni Jora, sebuah novel dengan sampul bergambar seorang perempuan berkerudung merah. Kerudung itu menjuntai dan berkibar seperti kobaran api. Seperti kata ”Geni” dalam judulnya. Geni yang berarti api. Senada dengan latar belakang sampul yang berwarna oranye semu hitam, seperti api yang baru saja menghanguskan sesuatu yang besar. Api dari siapa? Api dari seorang Jora, tokoh utama novel Geni Jora. Api yang tersimpan dalam diri Kejora dan akan berkobar jika telah tiba waktunya. Begitu pula penulis menuliskan dalam salah satu halaman, “Maka aku berkata, ‘Seperti Rabi’ah, aku takut dijilat nyala. Namun jika saatnya tiba, aku sang pengobar api.’” (hlm. 22).

Identitas Buku

  • Judul              : Geni Jora
  • Pengarang      : Abidah El Khalieqy
  • Penerbit          : Penerbit Qanita
  • Tahun terbit    : 2009 (cetakan 1 edisi baru)
  • Ukuran buku  : 272 halaman, 20,5 cm
  • ISBN               : 978-979-3269-85-6

Baca juga: Resensi novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy

Sinopsis Novel Geni Jora

Kejora adalah seorang perempuan cerdas, kritis, dan cantik yang berusaha memberontak kultur patriarki yang mendiskriminasi perempuan. Jora terlahir dari keluarga poligami. Istri pertama ayahnya tidak dikaruniai keturunan. Kejora dan saudara-saudaranya lahir dari istri kedua. Meskipun memiliki dua istri, ayah Kejora tampak memperlakukan kedua istrinya dengan adil. Ia memberikan dua rumah yang sama besarnya dan memberikan tiga pembantu untuk setiap rumah.

Sejak kecil, dunianya telah dibatasi oleh tembok rumahnya yang tinggi. Kejora dan kakak perempuannya, Lola, hanya boleh keluar pagar jika ada keperluan mendesak. Sedangkan Prahara, adik laki-lakinya boleh bermain keluar ke manapun yang ia suka. Neneknya, justru menjadi orang yang paling melanggengkan budaya patriarki di keluarganya. Setiap kali Kejora ribut dengan Prahara, neneknya akan selalu membela Prahara. Nenek meminta Kejora untuk mengalah karena ia perempuan. Bagi neneknya, kedudukan perempuan akan selalu berada di bawah laki-laki, meski nilai rapor Jora jauh lebih baik daripada Prahara. Oleh karena itu ia ingin memberontak terhadap tradisi yang selama ini dirasa merugikan kaumnya. Ia ingin melawan segala bentuk pelecehan dan diskriminasi dengan menjadi perempuan sukses dan mandiri, sehingga laki-laki akan menaruh hormat padanya.

Latar belakang keluarganya yang kaya raya membuat Kejora mendapat kesempatan untuk nyantri di pesantren paling top di kotanya. Di pesantren, Kejora adalah santri teladan dan memiliki reputasi yang cukup bagus. Ia memiliki sahabat baik yang sifatnya hampir mirip dengan Kejora. Elya Huraibi namanya. Elya adalah kakak kelas Kejora, yang cantik, cerdas, dewasa, vokal, dan menyukai puisi. Elya dan Kejora sangat dekat dan akrab. Kedekatan Kejora dan Elya ternyata menimbulkan kesalahpahaman. Sonya Al Katiri, teman yang tidak suka dengan Kejora memprovokasi dengan menuduh Kejora dan Elya telah menjalin hubungan terlarang. Akan tetapi, Elya mampu membungkam tuduhan tersebut. Fitnah tersebut membuat Kejora menjauh dari Elya. Meski sebenarnya Kejora juga merindukan Elya.

Setelah lulus dari pesantren, Jora mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Damaskus. Di sana ia bertemu dan menjadi kekasih Zakky Hedouri, putra pemilik pesantren tempat Jora belajar. Berawal dari sana lah Kejora bisa mewujudkan mimpinya untuk menjelajahi jejak-jejak peradaban Timur Tengah. Di Damaskus, Jora tidak hanya sibuk berkuliah tapi juga aktif di organisasi pergerakan perempuan. Ia juga bertemu dengan Asaav, lelaki mualaf keturunan Yahudi, yang sempat membuat Zakky cemburu dan kalap.

Meski Zakky adalah seorang putra mudirul ma’had, dan pembicara forum kajian di salah satu masjid di Damaskus, ia suka meminum khamar dan bergonta-ganti pacar. Memiliki kekasih seperti Zakky adalah anugerah dan ujian di saat yang bersamaan bagi Kejora. Zakky memiliki paras tampan, dan lidah yang fasih untuk berorasi maupun merayu perempuan. Sifat playboy Zakky tidak serta merta membuat Kejora menolak Zakky begitu saja. Karakter Zakky membuat Kejora justru ingin menyelami pikiran laki-laki ‘petualang’ yang diwakilkan oleh sosok Zakky.

Tokoh Novel Geni Jora

Meski diceritakan sebagai orang yang lahir dari orang tua keturunan Arab dan penganut nilai-nilai Islam yang kental, Kejora dan saudara-saudaranya tidak ada yang dinamai dengan nama-nama Arab. Mulai dari Samudera, Bianglala (Lola), Kejora (Jora), dan Prahara. Hampir semua tokoh dalam novel Geni Jora ini cantik dan tampan. Mulai dari tokoh utama, Jora, lalu Lola, Elya, Zakky, Asaav, sampai tokoh tambahan seperti adik perempuan Zakky, Omi Ida (Ibu Zakky), teman-teman Kejora di Timur Tengah, semuanya cantik dan tampan. Yang tidak dilukiskan kecantikan dan ketampanannya hanya para pembantu yang mendiami rumah Kejora dan kedua paman Kejora yang cabul dan semena-mena.

Kejora (Jora)

Kejora, bintang yang berada di ketinggian langit. Cahanya menerangi langit malam yang gulita. Ia tinggi tak tergapai oleh siapapun. Tetapi orang-orang ingin meraihnnya, bakan menjatuhkannya. Kejora juga berarti bintang timur. Bintang timur merupakan julukan planet Venus. Adapun Venus juga nama sesosok dewi dalam mitologi Romawi. Dewi Venus, dewi cinta dan kecantikan. Sebagaimana yang digambarkan oleh penulis.

“Sebagaimana namaku, Kejora, akulah Dewi Venus, Ishtar si ladang minyak global. Permukaan wajahku dihiasi lautan petroleum seluas planet, jauh lebih besar daripada ladang minyak milik Irak atau Arab Saudi. Para pialang minyak yang kehausan, dipersilakan melirik wajahku. Tetapi, nanti dulu!” (hlm. 47).

Sedalam itu penulis memberi makna sebuah nama tokoh. Tokoh Kejora dalam novel ini terasa terlalu sempurna: cantik, cerdas, kritis, religius, pemberani, puitis, dari keluarga kaya raya, dan jadi pujaan orang. Kecerdasan dan kekritisan Jora membuatnya memiliki pemikiran sendiri. Seperti ketika Jora menjawab pertanyaan Ustadz ketika ujian di pesantren. Ketika ia ditanya mengenai hal-hal yang membatalkan shalat, Jora menjawab, tidak punya imajinasi. Bukan jawaban yang sudah dijelaskan di buku.

“Seseorang yang tidak memiliki imajinasi, ia tidak pernah bisa shalat. Jika pun ia melaksanakan shalat, itu hanya ritual kosong yang bisa dilaksanakan oleh semua robot. Hanya orang yang memiliki imajinasi yang bisa melaksanakan dan benar-benar shalat.”(hlm. 49).

Jawaban itu ia lontarkan saat Jora belum genap lima belas tahun. Ia menjawab demikian karena pernah melihat beberapa temannya yang buang angin di tengah shalat. Akan tetapi mereka tidak mengulang berwudhu. Mereka melanjutkan shalat sambil cekikikan. Kecerdasan yang keterlaluan untuk anak seusianya. Tapi tidak dapat dipungkiri, anak-anak yang seperti itu memang ada.

Penulis dengan piawai menciptakan karakter Kejora sebagai karakter fiksi perempuan yang anti mainstream dan jauh dari kesan lemah, cengeng, dan lugu meskipun jadi terasa ketus dan sinis. Penceritaan dengan sudut pandang orang pertama membuat karakter Kejora terkesan sedikit narsistik. Sekali lagi, Kejora adalah perbaduan dari karakter cerdas, cantik, kritis, dan juga bandel.

Zakky Hedouri

Zakky adalah gambaran kesempurnaan dari sesosok lelaki, tapi juga dengan stigma yang menyangkut kaumnya: nakal. Dengan segala kelebihannya dan banyaknya relasi yang terhubung dengannya, ia bisa dengan mudah mengantongi banyak uang. Tentu saja ia jadi bisa membeli fasilitas mewah dan mengencani banyak perempuan. Akan tetapi hal itu menjadi tidak mudah ketika ia berhadapan dengan Kejora. Kejora yang tidak mudah ditaklukkan membuat Zakky menyadari kelemahannya dan taubat dari kebiasaan buruknya. Ini membuatku teringat akan sebaris syair Khalil Gibran, fal-ḥub kal-maut yugayyiru kulla syai`. Cinta itu seperti maut, ia mengubah segalanya.

Karakter Zakky juga merupakan gambaran dari kadar keimanan seseorang yang tidak dapat diwarisi dari seorang ayah yang bertakwa, sebagaimana kata Raihan dalam lagunya, “Iman Mutiara”. Zakky mewakili karakter laki-laki petualang cinta yang menganggap perempuan harus bisa ditaklukkan. Semakin banyak perempuan yang menurutnya bisa ditaklukkan, maka semakin ‘berprestasi’ lah ia. Sebagai seorang dari kalangan agamawan, Zakky cukup liberal.

Perpaduan karakter Kejora dan Zakky membuat keduanya lebih terkesan sebagai sepasang lelaki dan perempuan yang ingin menaklukkan dan menguasai satu sama lain, alih-alih sebagai pasangan kekasih yang saling mencintai dan menyayangi.

Latar dan Alur Novel Geni Jora

Cerita ini mengajak pembaca melayangkan imajinasinya ke Timur Tengah, mulai dari Maroko, Damaskus, hingga Laut mati dengan segala keeksotisan dan keliarannya. Sebagian cerita berlatar daerah Jawa Timur. Novel ini menggunakan alur maju. Ada dua bagian, yang pertama perjalanan Kejora setelah menjadi mahasiswa di Damaskus, lalu yang kedua yaitu penceritaan masa kanak-kanak dan masa nyantri Kejora.

Aku suka penggambaran konflik sekaligus cara penyelesaiannya dalam novel ini. Tidak klise dan anti mainstream. Seperti pada bagian ketika Kejora cemburu dan marah karena Zakky masih bermain mata dengan Lola dan Elya. Itu tidak dilakukan di belakang Kejora, melainkan di depan matanya. Lalu Kejora membalasnya terlebih dahulu. Ia melakukan hal yang sama dengan Zakky yaitu menghabiskan waktu dengan Asaav sebagaimana seseorang yang sedang jatuh cinta. Sebagaimana prinsip Kejora, ia bisa menjadi cerminan bagi kekasihnya. Jika Kejora berpaling kepada lelaki lain, itu karena Zakky melakukan hal yang sama terlebih dahulu, berpaling kepada perempuan lain.

Permasalahan dalam Novel Geni Jora

Ada banyak permasalahan yang diangkat dalam novel ini. Kedudukan perempuan dan laki-laki, poligami, diskriminasi perempuan, kekerasan seksual, juga problematika kehidupan pesantren. Secara garis besar, novel ini hendak menyampaikan pemberontakan terhadap ketimpangan gender yang terlindung dibalik tradisi dan agama.

Tradisi patriarki yang menyebabkan perempuan terpinggirkan direfleksikan lewat latar belakang keluarga Kejora. Ruang gerak Kejora dan Lola yang dibatasi, tingginya pagar rumah yang menghalangi kebebasan mereka, sementara anak laki-laki diberikan kebebasan keluar masuk gerbang sekehendaknya. Budaya patriarki justru dilanggengkan oleh nenek Kejora sendiri. Nenek Kejora digambarkan sebagai orang yang konservaif dan sulit menerima pemikiran baru, dan memilih bertahan pada pemikiran dan tradisi yang sebenarnya merugikan dirinya sendiri.

Tradisi patriarki yang masih mengakar di lingkungan keluarga Kejora membuat perempuan kurang mendapatkan hak atas keadilan. Seperti ketika Lola mendapat pelecehan dari kedua pamannya, Hasan dan Khalil. Lola tidak menceritakan kepada siapapun. Hanya Jora yang mengetahuinya. Meski Jora mendukungnya, Lola tetap memilih untuk memendamnya sendiri. Ia tahu keluarganya hanya akan menyudutkannya jika ia mengadukan kelakuan pamannya. Ia muak setiap kali teringat pelecehan tersebut. Kejadian tersebut membuat Lola menyimpan dendam kepada kedua pamannya. Dan ia bertekad akan membalasnya ketika ia telah memiliki kekuatan pendukung. Apa yang dialami oleh Lola mencerminkan penyebab bungkamnya korban kekerasan seksual. Ia tidak memiliki dukungan dan hanya akan disalahkan. Sedangkan pelaku tetap bebas berkeliaran dan merasa tidak melakukan kesalahan apapun.

Novel ini juga mengungkap sisi gelap kehidupan pesantren. Pesantren yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu, justru menjadi tempat rehabilitasi, pelarian masalah, dan juga tempat tinggal para hantu. Pesantren yang mengajarkan banyak ilmu agama tidak membuat semua santrinya mengamalkan ilmu yang telah diajarkannya. Fitnah dengan mudahnya tersebar, termasuk menimpa Kejora dan Elya. Pencurian, korupsi, dan lesbian menjadi penyakit yang menjangkiti pesantren.

Setelah dibuat bertanya-tanya dan juga emosi dengan jalan cerita dan kelakuan para tokohnya, penulis memberikan ending yang cukup melegakan. Kuakui cerita ini mampu membuatku ikut terbawa emosi. Entah itu sedih, marah, atau romantisme yang dituliskan oleh penulis. Beberapa hal yang dilakukan Jora juga turut membuatku kagum dan sebal dalam waktu yang bersamaan. Kagum dengan segala kelebihan Jora dan sebal dengan semua kebandelannya. Seperti ketika ia cemburu dengan Zakky lalu berkencan dengan Asaav, yang lebih terkesan seperti pelampiasan. Setelah beberapa hari marah-marah dengan Zakky, Kejora kembali kepada Zakky tanpa peduli pada perasaan Asaav yang telah diperlakukan seperti kekasih pada saat Kejora cemburu. Begitu juga dengan kenakalan Zakky, yang tertutup tabir intelektual.

Ada pandangan menarik tentang poligami di akhir-akhir cerita. Tidak berat sebelah. Tidak menyebutkan pro atau kontra, tetapi menjelaskan secara jujur bahwa kecenderungan poligami dimiliki semua manusia baik laki-laki maupun perempuan.

“Setiap laki-laki berkecenderungan poligami. Sama halnya perempuan yang memiliki kecenderungan poliandri. Tetapi, laki-laki mendapat justifikasi dari agama, sebaiknya perempuan tidak. Tetapi jika mereka berkehendak, mereka akan menempuh cara lain untuk melakukan itu.” (hlm. 259-260).

Sebuah pandangan poligami yang jujur dan tidak menutup-nutupi kecenderungan. Dengan kata lain, perempuan bisa saja poliandri sebagaimana laki-laki berpoligini. Ia bisa mengkhulu` pasangannya, lalu menikahi lelaki lain. Sebuah balasan yang impas jika memang perempuan menginginkannya ketika kesetiaan laki-laki tak lagi bisa diharapkan.

Bagian Menarik dari Novel Geni Jora

Ada beberapa hal menarik yang membuat novel Geni Jora perlu kamu baca. Bukan karena novel ini memenangi sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta. Ada hal yang lebih menarik daripada itu.

Pertama, novel Geni Jora mengangkat permasalahan yang menarik untuk kita ketahui dan kita diskusikan. Perjuangan untuk kesetaraan gender memang sudah banyak dibahas. Tetapi, masalah ketimpangan gender bukan hanya masalah kecil, ada banyak cabang dan akarnya. Novel ini membahasnya dengan sentuhan berbeda. Ada nilai-nilai spiritual dan humanis yang disisipkan dalam novel ini.

Kedua, novel ini memberikan banyak referensi kesenian dan kebudayaan Arab baik klasik maupun populer, seperti lagu-lagu Arab, syair-syair Arab, penyair Arab, dan musisi Arab. Dibanding mengambarkan sisi religius dan keislaman dunia Arab sebagaimana yang sudah umum dikenal, novel ini lebih banyak menyingkap sisi liar Arab.

Ketiga, gaya bahasa yang digunakan dalam novel ini menarik. Ada nada puitis, garang, sinis, ketus, dan sedikit narsistik, haha.

Bagi yang menyukai seluk beluk tentang dunia Arab, dan belum membaca novel ini, coba baca. Kamu pasti akan menemukan hal yang menarik dari kaca matamu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.