novel katak hendak jadi lembu, sinopsis dan ulasan
fiksi,  ulasan

Novel Katak Hendak Jadi Lembu, Sinopsis dan Ulasan

Seperti pepatah “pungguk merindukan bulan”, katak tak akan pernah bisa menjadi lembu. Impian untuk menjadi lembu bagi seekor katak adalah hil yang mustahal. Hanya bisa digapai sebatas angan. Sulit untuk digapai kecuali Tuhan berkehendak. Kalau pedet jadi lembu sih masih masuk akal. Tapi ini katak.

“… Sebab saya tak tahan senantiasa dalam kesempitan, dalam kekurangan karena perbuatan akang sendiri, Akang, yang hendak bertuah senantiasa di mata orang. Hendak bertuah, hendak indah di mata orang saja – ada terdengar oleh akang? – oleh karena itu akang tak mau mengurangi belanja sehari-hari itu. … Jangan kita berisfat seperti katak yang hendak jadi lembu. Sebelum pecah perut menandingi … ”

(hlm 59-60)

Jika dilihat dari kutipan kata-kata tokoh Zubaedah di atas, sudah terbayang kan, seperti apa cerita dari novel Katak Hendak Jadi Lembu ini. Ya, ini tentang orang yang tidak sadar diri dan tidak tahu batasan dirinya. Menginginkan sesuatu di luar kemampuannya. Istilah Jawanya “kegedhen empyak kurang cagak”. Maknanya sama dengan besar pasak daripada tiang.

Identitas Buku Katak Hendak Jadi Lembu

Judul: Katak Hendak Jadi Lembu

Pengarang: Nur Sutan Iskandar

Tahun terbit: 2021 (edisi elektronik)

Penerbit: Balai Pustaka

ISBN: 978-602-260-289-7 (EPUB)

Baca via: Ipusnas

Sinopsis Novel Katak Hendak Jadi Lembu

Alkisah, ada seorang mantri kabupaten bernama Suria. Suria ini tinggal di sebuah rumah yang perabotannya mewah-mewah bersama dengan istrinya dan dua anak bungsunya yang masih kecil-kecil. Anak tertuanya sedang bersekolah di Mulo, yang selalu digadang-gadang menjadi calon amtenar setelah lulus nanti.

Suria selalu membangga-banggakan apa yang ia miliki dan yang tampak di mata orang lain. Perabotannya mewah. Makan enak terus. Padahal hutang di warung tetangga dan warkop di kantor Suria menumpuk. Dua anak bungsunya belajar di sekolah elit yang biayanya mahal, padahal Suria tidak pernah peduli akan kebutuhan anaknya. SPP anaknya sudah nunggak berbulan-bulan. Mereka terancam dikeluarkan dari sekolah elit tersebut. Yang membiayayai hidup dan sekolah anak sulungnya adalah mertuanya. Suria tak ikut andil dalam urusan anak-anaknya. Bahkan saat istrinya mengandung anak pertamanya, Suria meninggalkannya.

Istrinya, Zubaedah, sudah berkali-kali menasehati suaminya agar kembali ke jalan yang benar, “bergaya sesuai dompet”. Namun apa, nasehat belum masuk kuping kanan sudah menguap dulu di atas kepalanya lalu meninggalkan kuping kiri. Tak pernah ada pengaruhnya. Dalam keadaan penuh utang itu, Suria masih saja nekat mengikuti lelang barang-barang milik pejabat kabupaten yang akan pindah. Tak tanggung-tanggung, ia melelang barang-barang bernilai tinggi dan dalam jumlah yang banyak. Akan tetapi, ia tak dapat melunasinya. Dalam keadaan gali lubang tutup lubang itu, Suria dengan percaya diri mengirim surat kepada Haji Junaedi yang kaya raya, yang dianggap sebagai sahabatnya. Selain menjalin silaturahmi dan melamar Fatimah, anak perempuan Haji Junaedi. Selain karena kepincut, juga agar kekayaan Suria tetap aman. Sudah dapat anaknya yang cantik, dapat pula harta bapaknya. Begitu pikir Suria. Dahulu ia menikah dengan Zubaedah juga karena Zubaedah adalah anak dari sahabat ayahnya. Ya. Jalur sahabat akan memudahkan ia memiliki apa yang diinginkan. Meskipun ia sudah beristri dan beranak tiga, sahabatnya itu pasti akan menerimanya. Kapan lagi Haji Junaedi punya menantu mantri kabupaten, sebuah pangkat yang sangat dihormati dan disegani di lingkungan Suria. Ah, tapi apa iya Haji Junaedi masih melanggengkan budaya ‘jalur sahabat’? Lanjutannya bisa dibaca di bukuya ya.

Ulasan Novel Katak Hendak Jadi Lembu

Membaca karya sastra lama kadang membuatku merindukan nilai moral jadul yang sebenarnya tidak kolot-kolot amat untuk dipertahankan. Aku tahu ada banyak hal yang berubah. Bahkan mungkin saat aku menjadi menjadi orang tua nanti, nilai-nilai yang kini masih dijunjung tinggi sudah menjadi hal yang bebas. Aku tak tahu. Tapi yang pasti, selama kita memiliki prinsip, perubahan apapun bisa kita saring dan kita timbang, mana yang bisa kita terima dan mana yang tidak.

Demikian halnya dengan novel Katak Hendak Jadi Lembu. Sebagaimana novel balai pustaka lainya, novel ini sarat akan nilai-nilai moral klasik yang menjunjung tinggi sopan santun, hormat pada orang tua, dan norma-norma kesopanan Timur lainnya.

Gaya Bahasa yang Khas Balai Pustaka

Selain karena novel ini adalah karya sastra klasik Indonesia, hal lain yang membuatku tertarik untuk membaca novel ini adalah review dari ibuku. Ibuku bilang novel ini bahasanya sulit dipahami. Padahal ibu tidak pernah bilang begitu pada novel jadul lain seperti Sitti Nurbaya misalnya. Aku pun berikir, apakah sesusah itu novel ini? Menurutku Sitti Nurbaya dan novel-novel seangkatannya bahasanya memang tinggi dan memang tidak gampang dicerna seperti novel-novel remaja yang ringan. Kalau novel-novel itu saja sudah susah, Katak Hendak Jadi Lembu sesuah apa? Ah, coba kapan-kapan aku baca.

Setelah aku berselancar di Ipusnas, ternyata aku menemukan novel Katak Hendak Jadi Lembu dengan banyak stok tanpa perlu mengantri. Kupinjam, dan halaman novel itu pun terpampang di hadapanku. Novel edisi ini dipengantari oleh Maman S. Mahayana, yang salah satu bukunya ingin kumiliki tapi belum kesampaian, hehe. Oke, lanjut ke novelnya.

Bagian pertama, hmmm memang agak susah sih, tapi setelah membaca beberapa halaman berikutnya sebenarnya cukup bisa dipahami kok. Tidak semenakutkan yang kukira, haha.

Bergayalah Sesuai Kemampuan

Setiap karya sastra biasanya menyiratkan pesan moral. Demikian halnya denan Katak Hendak Jadi Lembu. Kejadian demi kejadian yang menimpa tokoh-tokohnya dan kelakuan Suria yang membuat pembaca emosi seolah merupakan cara penulis untuk menyampaikan pesan tak langsung kepada pembaca. Hendaknya kita bergaya sesuai kemampuan. Nilai seseorang tidak ditentukan dari tingginya pangkat dan banyaknya harta mereka. Belilah Pajero atau Lamborgini karena kita memang mampu dan membutuhkannya, bukan karena kita melihat orang lain punya lalu kita juga harus ikut punya. Padahal duit kita hanya cukup ntuk membeli lamborgini mini, a.k.a mobil-mobilan. Jangan pula membeli karena kita ingin orang lain kagum dengan kita. Harga diri seseorang bukanlah dari banyaknya materi yang kita miliki. Tetapi dari sikap dan kepribadian kita. Ini pesan dari novelnya ya, bukan pesan dari diriku sendiri. Kalau aku mah mana mungkin bisa memberikan moral value demikian. Hari ini bisa bangun pagi tanpa alarm saja sudah mendingan.

Baca juga: PETUALANGAN PINOKIO DAN NASEHAT-NASEHAT KLASIK

Ah, tumben sekali rasanya sebuntu ini saat menulis review. Padahal biasanya sebuntu-buntunya menulis reivew, review-nya tidak jadi kutulis, hehe. Kali ini aku tetap memaksa-maksa untuk menulis. Entah seperti apa jadinya, aku tetap menayangkannya di blog. Ya, sayang kalau tidak ditayangkan karena aku sudah menulis dari kemarin-kemarin, hanya saja tak kunjung selesai. Kucicil menulis sedikit demi sedikit lama-lama njijiki juga kalau dibaca.

Karena aku sudah bingung mau menulis apa lagi, aku cukupkan saja sampai di sini. Kalau misal ada ide lagi untuk .. yahh, membuat tulisan ini sedikit lebih baik, nanti akan ku-update. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah berkunjung dan membaca.

Asli sudah tidak tahu harus menulis apa lagi. Ya sudah, cukup sekian dulu lah ya. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Semoga tulisan berikutnya lebih enak dibaca, heuheu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *