novel litttle women
fiksi,  ulasan

Review Novel Little Women (Gadis-Gadis March) – Louisa May Alcott

Ulasan Novel Little Women-

Novel Little Women adalah novel klasik Amerika yang ditulis oleh Louisa May Alcott. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1869. Novel ini berjudul Little Women, bukan ‘little girl’, ‘young women’ atau ‘young lady’. Begitu pula terjemahan judul novel ini bukan ‘perempuan kecil’ atau ‘perempuan muda’. Little Women kemudian menjadi Gadis-Gadis March. Terjemahan judul novel ini telah memberi gambaran tentang apa yang diceritakan dalam novel Little Women dan siapa ‘little women’ yang dimaksud dalam novel ini. Ilustrasi dalam sampul juga menggambarkan karakter-karakter yang ada dalam novel ini. Memangnya ada apa dengan gadis-gadis March?

Identitas Buku

Judul: Little Women (Gadis-Gadis March)

Pengarang: Louisa May Alcott

Penerjemah: Annisa Cinantya Putri, Widya Kirana

Tahun terbit: 2020 (cetakan kedua)

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Ukuran buku: 378 hlm; 20 cm

ISBN : 978 602 03 1036 7

Sinopsis Novel Little Women

Empat perempuan kakak beradik tinggal di sebuah rumah sederhana bersama ibunya. Ayahnya menjadi prajurit Perang Saudara di Washington. Sehari-hari mereka sibuk untuk bekerja, belajar, dan menunggu kabar ayahnya. Empat orang berarti empat karakter yang berbeda. Meg adalah anak tertua yang anggun dan feminin. Jo anak tomboi, tempramen, dan penyuka sastra. Beth, anak ketiga yang pemalu, penurut, dan pandai bermain piano. Bakat bermain piano dan hati Beth yang lembut membuat Mr. Laurence teringat akan cucu perempuannya, lalu menghadiahi Beth piano. Terakhir adalah Amy, anak bungsu yang berusaha terlihat dewasa dan senang melukis.

Keuangan keluarga March sedang sulit sehingga Meg, dan Jo sebagai dua anak paling tua harus bekerja. Mereka berhubungan sangat baik dengan tetangga terdekatnya yang bernama Mr. Laurence, berkat Jo. Jo mengajak Laurie, cucu Mr. Laurence yang pemalu itu keluar rumah dan bergaul. Akhirnya mereka menjadi akrab dan saling membantu. Meskipun dalam kesulitan, Mrs. March selalu mengajarkan anak-anaknya untuk tetap membantu. Mereka membantu keluarga Hummel, tetangganya yang miskin dan memiliki banyak anak.

Pada suatu hari rumah keluarga March mendapat kabar bahwa Mr. March yang berada di Washington sakit parah dan meminta Mrs. March untk datang ke sana. Berita tersebut dengan cepat mengubah suasana keceriaan rumah keluarga March. Bahkan Jo nekat menjual rambutnya demi membantu ayahnya. Berangkatlah sang ibu ke Washington ditemani Mr. Brooke, guru privat Laurie. Ia meninggalkan keempat putrinya bersama Hannah, pelayan yang juga merangkap orang tua ketika Mrs. March pergi. Cobaan belum usai. Beth sakit demam setelah menggendong bayi di rumah keluarga Hummel. Keadaan Beth semakin parah, sementara Mrs. March yang sengaja tidak diberitahu perihal Beth belum kembali dari Washington.

Little Women, Keluarga March dan Keluarga Alcott

Seperti yang tertulis dalam cerita, Little Women adalah empat gadis kakak beradik. Tokoh-tokoh dalam Little Women bisa dikatakan adalah fiksi dari Louisa dan ketiga saudara perempuannya, dengan Jo sebagai Louisa. Louisa May Alcott, penulis novel Little Women adalah anak kedua dari empat bersaudara. Begitu juga keadaan keluarga March dalam novel Little Women didasarkan pada latar keluarga Louisa May Alcott. Keluarganya pernah mengalami kesulitan keuangan yang menyebabkan Ia harus bekerja. Louisa May Alcott pertama kali menulis pada umur sembilan belas tahun. Uang yang ia peroleh membantu keuangan keluarga dan ayahnya sangat bangga padanya.¹ Begitu pula dalam novel Little Women, Jo berhasil menerbitkan satu cerpennya dalam surat kabar yang disambut kebahagiaan oleh orang-orang di rumahnya.

Jo March

Di antara keempat gadis-gadis March, tokoh Jo paling banyak diceritakan. Jo, adalah karakter perempuan antimainstream dan nyeleneh. Ia menentang dikte-dikte yang ditujukan kepada perempuan. Ia tidak pernah mempermasalahkan gaun-gaun cantik, berbicara terbuka dan apa adanya, bertingkah seperti laki-laki, dan mempunyai mimpi besar. Ia kadang meremehkan pikiran bahwa kebahagiaan perempuan telah lengkap jika ia menikah, tinggal di istana suaminya, memiliki anak-anak yang lucu.

Baca juga: Ulasan Novel Geni Jora

“Mengapa kau tidak berkata kau ingin memiliki suami yang tampan, bijaksana, dan beberapa anak-anak yang manis seperti malaikat? Kau tahu istanamu tidak akan sempurna tanpa mereka,” sergah Jo, yang belum pernah memiliki kahayalan-khayalan romantis, kecuali dari apa yang dibaca di buku-buku, dan ia justru meremehkan pikiran semacam itu.”

Adalah wajar bagi setiap gadis untuk memimpikan kehidupan yang nyaman, rumah yang bagus, gaun yang cantik, dan kesenangan-kesenangan hidup lainnya. Semua itu bisa didapatkan jika datang seorang lelaki kaya untuk menjadikannya nyonya rumah di istananya. Tapi Jo lebih suka mendapatkan semua impiannya atas usahanya sendiri. Keadaan sosial yang memandang tinggi kedudukan lelaki, baik di dalam keluarga maupun di ruang publik membuat Jo yang seorang perempuan kadang pesimis akan mimpi-mimpinya. Tuntutan agar perempuan tetap berada di rumah masih subur meski telah ada yang berusaha mencabutnya. Tapi ia selalu mempunyai tekad yang kuat dan selalu berusaha untuk mewujudkan mimpinya.

“Kalau saja aku anak lelaki, kita akan melarikan diri bersama, dan bersenang-senang. Tapi, aku anak perempuan yang malang, yang harus berperilaku pantas, dan berdiam di rumah.” (hlm. 338).

Meski Jo meremehkan pikiran-pikiran romantis yang dianggapnya konyol, ia tetap menghargai Meg yang memiliki impian tersebut. Demikian juga saudara-saudaranya dan kedua orang tua Jo selalu mendukung mimpi-mimpi Jo. Bahkan mereka bangga ketika Jo berhasil mendapatkan sebagian kecil mimpi-mimpinya.

Hal lain yang menarik dari karakter Jo adalah persahabatannya dengan Theodore Laurie. Sifat Jo yang blak-blakan dan supel membuat Laurie yang pemalu dan kaku itu keluar dari sangkar. Persahabatan mereka murni persahabatan lugu khas remaja. Tetapi penulis kadang memberikan teka-teki dari perilaku Laurie. Seolah Laurie berharap bahwa kelak Jo lebih dari sekedar sahabat baginya. Tapi tidak dengan Jo yang justru ingin Laurie yang sebaya dengannya kelak menikah dengan Meg, kakak tertuanya. Ia memandangnya sebagai lelaki yang baik dan terhormat untuk kakaknya. Sementara Meg sendiri telah memiliki pujaan hati.

Novel Little Women, Novel Tentang Perempuan dan Keluarga

Little Women adalah novel klasik tentang perempuan dan keluarga. Gadis-gadis March adalah potret perempuan-perempuan yang berbeda karakter, berbeda mimpi, berbeda hobi, akan tetapi tetap saling mendukung dan tidak merendahkan satu sama lain. Konflik pasti ada, sebagaimana keributan antara kakak-beradik. Selebihnya, mereka adalah kakak beradik yang kompak.

Novel ini beratar tahun 1850-an. Meski pada masa itu pendidikan perempuan telah banyak diperjuangkan, belum semua perempuan berkesempatan untuk belajar di sekolah umum. Di antara kempat gadis-gadis March, hanya Amy yang masih bersekolah di sekolah umum yang semua muridnya perempuan. Meg dan Jo yang belum genap tujuh belas tahun harus bekerja karena kondisi keuangan keluarga. Meg bekerja sebagai pengasuh dan guru privat di sebuah keluarga bangsawan kaya. Jo bekerja di rumah bibi March yang penuh dengan buku-buku. Buku-buku itu menjadi hiburan di tengah kelelahannya dan omelan bibi March. Sementara Beth yang pemalu tidak pergi ke sekolah. Ia belajar di rumah dengan orang tua dan sudaranya sebagai guru.

Mrs. March, yang dipanggil Marmee oleh gadis-gadis March, adalah orang tua yang bijak. Ia tidak pernah memaksa dan mendikte anak-anak gadisnya untuk menjadi seperti apa. Ia menghargai setiap pilihan anak-anaknya. Ketika Meg mulai beranjak dewasa dan memimpikan kehidupan pernikahan yang indah, Marmee turut mengaminkan harapan tersebut. Ia memandang wajar harapan-harapan seperti itu bagi gadis yang telah beranjak dewasa. Akan tetapi, Marmee selalu menekankan bahwa materi bukan puncak tujuan hidup. Marmee berharap anak-anaknya menjadi perempuan-perempuan yang baik, terhormat, rendah hati dan tidak materialistis. Semua yang disebutkan tak lain adalah watak dari Marmee itu sendiri. Ia adalah sosok yang penuh cinta kasih terhadap sesama. Menurutnya, lebih baik menikah dengan pria miskin asal bahagia daripada menikah dengan pria kaya tapi menjadi silau dengan kenikmatan materi. Akan tetapi, kemiskinan bukanlah harapan hidup yang baik. Begitu pula yang dipikirkan anak-anaknya. Oleh karena itu Marmee mendukung pendapat Jo yang memilih menjadi perawan tua daripada menikah dengan lelaki miskin.

“Benar, Jo. Lebih baik menjadi perawan tua yang bahagia, ketimbang istri yang menderita, atau gadis-gadis yang tidak menjaga kehormatannya dan berkeliaran mencari suami,” (hlm. 160).

Marmee adalah potret orang tua yang berpikiran terbuka dan tidak memaksakan kehendak. Begitu pula dengan Mr. March. Ayah dari gadis-gadis March itu selalu bangga dengan anak-anaknya. Mr. March selalu memuji apa yang telah dilakukan anak-anaknya. Hubungan baik yang dibangun oleh March dan anak-anaknya membuat mereka merasa dekat dan tidak canggung. Sehingga kepulangan Mr. March dari Washington adalah hadiah natal paling indah untuk gadis-gadis March. Mrs. March mendidik anak-anaknya tanpa terkesan menggurui. Kebaikan hati Mrs. March dan kekompakan keluarganya meluluhkan hati Mr. Laurence yang tampak kaku. Ia tak lagi memaksakan kehendak kepada cucunya, Laurie. Begitu pula dengan Laurie yang menemukan keluarga baru di rumah March.

Orang tua yang terlalu menuntut anaknya untuk menjadi seperti apa yang ia inginkan membawa dampak buruk bagi sang anak. Sebagaimana yang dialami Laurie. Mr. Laurence ingin Laurie menjadi pedagang yang terkenal dengan mengurusi banyak bisnis sampai ke India seperti dirinya. Sementara Laurie tidak menyukai pekerjan tersebut. Selama ini ia telah berusaha menuruti perintah kakeknya untuk menyenangkannya. Akan tetapi, semua dirasa belum cukup membuat Mr. Laurence senang. Ia ingin memberontak dan pergi dari rumah untuk mengejar impiannya sendiri.

Relasi antara keluarga March dengan Hannah juga menarik untuk disorot. Hannah adalah pelayan di rumah keluarga March. Akan tetapi keluarga March memperlakukannya seolah bagian dari keluarga sendiri. Ketika Mrs. March harus pergi untuk merawat suaminya di Washington, ia berpesan kepada anak-anaknya bahwa mereka harus mendengarkan pertimbangan Hannah untuk mengambil keputusan. Ketika Beth sakit, Hannah ikut merawat dan meminta anak-anak agar tidak memberitahu Mrs. March. Hannah tidak ingin membuat perempuan itu khawatir. Hannah juga selalu ikut menyambut kegembiraan yang hadir di rumah March.

Lain-lain

Meskipun cerita ini berlatar masa perang saudara Amerika, penggambaran kondisi peperangan hampir tidak ada. Hanya beberapa pendapat tokoh cerita terhadap anggota keluarganya yang menjadi prajurit perang. Bibi March tidak pernah setuju jika saudaranya menjadi prajurit. Sementara Meg menganggap bahwa menjadi prajurit adalah kebanggaan keluarga, tetapi Ibu dan saudara perempuannya tetap akan merasa berat hati.

Buku ini merupakan bacaan yang bagus untuk usia remaja dan dewasa. Bagi penyuka cerita tentang keluarga, novel Little Women bisa dimasukkan ke dalam daftar bacaan. Gaya bahasanya lugas tapi puitis dan tetap mengena.

Ada banyak pesan-pesan mengesankan dalam novel Little Women. Bagiku sendiri novel ini memberiku motivasi untuk terus bergerak, bekerja, dan tidak bermalas-malasan. Lakukan apa saja yang bisa kau lakukan dan jangan melamun! Manfaatkan waktu sebaik mungkin! Tapi merasa lelah dan jenuh dalam bekerja adalah hal yang wajar. Kita tetap berhak menghibur diri.

Referensi

  1. Louisa May Alcott.en.wikipedia.org. Diakses pada 6 Oktober 2021

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.