novel perempuan berkalung sorban
fiksi,  ulasan

Resensi Novel Perempuan Berkalung Sorban Karya Abidah El Khalieqy

Judul: Perempuan Berkalung Sorban

Pengarang: Abidah El Khalieqy

Penerbit: Arti Bumi Intaran

Tahun terbit: 2008 (cetakan ke-2)

Tebal buku: viii + 320 hlm.

Ukuran buku: 13 x 19 cm

Novel Perempuan Berkalung Sorban – Pernahkan kamu mendengar cerita tentang perempuan yang dikekang oleh keluarganya, tradisi, dan bahkan aturan agamanya? Bukan, bukan salah aturan agamanya. Akan tetapi orang-orang yang salah interpretasi terhadap teks-teks keagamaan. Interpretasi yang keliru terhadap teks-teks keagamaan menyebabkan agama tidak membawa kedamaian. Ia justru seperti membawa kerumitan dan menindas berbagai golongan. Salah satunya kaum perempuan. Lewat novel Perempuan Berkalung Sorban ini penulis mendobrak isu tersebut.

Novel Perempuan Berkalung Sorban menceritakan seorang putri kiai bernama Annisa. Sebagai seorang perempuan putri kiai, Annisa dituntut untuk bersikap sesuai dengan aturan-aturan yang dianggap sebagai standar perempuan yang baik; harus nurut dan patuh, tidak boleh menyanggah, dibatasi ruang geraknya, tidak diberi kebebasan sebagaimana kedua kakak laki-lakinya. Annisa juga dinikahkan paksa oleh orang tuanya ketika ia baru saja lulus SD. Ia dinikahkan karena Bapaknya mengira bahwa diamnya Annisa adalah tanda setuju, sebagaimana yang tertuang dalam teks hadits. Akan tetapi sebenarnya Annisa diam karena bingung harus mengatakan apa.

Dalam pernikahannya, Annisa tidak bahagia. Samsudin, suaminya, melakukan KDRT dan melecehkannya. Meskipun Samsudin seorang putra kiai dan seorang sarjana, akan tetapi akhlaknya tidak mencerminkan apa yang disandangnya. Ia bahkan selingkuh dengan seorang janda yang bernama Kalsum dan menikahinya karena Kalsum hamil. Ia melakukannya setelah menganggap Annisa istri pembangkang dan mandul. Annisa tidak menceritakan penderitaannya kepada orang tuanya karena ia tahu orang tuanya tidak akan mendukungnya. Ia menceritakan semuanya kepada Lek Khudori, pamannya yang jauh di Mesir, sekaligus orang yang selalu menjadi tempat Nisa mencurahkan isi hati. Setelah menanggung derita selama bertahun-tahun, atas dukungan Khudori Annisa mengungkapkan semua penderitaannya di depan keluarganya. Annisa akhirnya bercerai dari Samsudin. Ia lalu menikah dengan Khudori. Ia mendapat banyak pandangan baru tentang bagaimana Islam memandang perempuan dari Khudori. Meski setelahnya masih banyak ujian yang dihadapi Annisa, akan tetapi ia tak pernah menyerah untuk terus memperjuangkan keadilan bagi para perempuan yang tertindas.

Novel Perempuan Berkalung Sorban diterbitkan pertama kali pada tahun 2001. Cerita ini sempat menuai kontoversi setelah difilmkan pada tahun 2009. Beberapa kalangan bahkan menganggap novel ini sebagai novel feminisme liberal, alih-alih menyebutnya sebagai novel religi Islam. Kemungkinan karena saat itu suara dan gerakan feminisme belum selantang sekarang. Sementara itu, novel ini ditulis dengan latar pesantren dengan suasana yang penuh nilai-nilai religius. Jadi, novel ini memang sedikit ‘memberontak’. Akan tetapi menurutku novel ini memberontak untuk menyuarakan keadilan. Bagaimanapun juga, permasalahan yang ada dalam novel ini mewakili segenap perempuan muslim yang selama ini tertindas dan tidak tahu jika ia tertindas. Ini sekaligus menjadi salah satu ciri khas penulis yang karyanya selalu bermuatan pendobrakan terhadap ketimpangan gender.

Terkait: Ulasan novel Geni Jora karya Abidah El Khalieqy

Tema yang diangkat penulis dalam novel ini cukup berani. Gaya bahasa yang puitis dalam novel ini mengimbangi permasalahan cerita sehingga suasana cerita ini tidak terkesan kaku dan keras, tapi juga tidak melodrama. Dialog tokoh Annisa dan Khudori yang usianya terpaut jauh menyebabkan novel ini terasa sedikit menggurui. Ada bagian dalam novel ini yang terasa tidak relevan jika untuk kehidupan sosial sekarang. Seperti Nisa yang dinikahkan setelah lulus SD. Pada saat ini, sepertinya pernikahan anak di lingkungan keluarga kiai tak lagi dijumpai. Begitu pula aturan pemerintah yang tidak lagi membolehkan pernikahan perempuan di bawah 18 tahun. Meskipun demkian, nilai-nilai yang disampaikan dalam novel ini tetap mengena.

Meskipun novel Perempuan Berkalung Sorban merupakan bacaan yang bagus, sebaiknya novel ini dibaca oleh usia tujuh belas tahun ke atas atau paling tidak siswa SMA. Ada beberapa bagian yang menceritakan kekerasan dan erotisme yang belum waktunya dikonsumsi anak di bawah umur.  Selain itu, ada beberapa pandangan yang mungin berbeda dengan kita, dan ini memerlukan pikiran yang terbuka untuk memahaminya agar kita tidak menelannya secara mentah-mentah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.