petualangan Pinokio
fiksi,  ulasan

PETUALANGAN PINOKIO DAN NASEHAT-NASEHAT KLASIK

Pinokio … Pinokio …

Boneka kayu yang lucu

Masih ingat dengan lagu anak-anak yang berjudul Pinokio? Kali ini aku akan mengulas sebuah buku cerita klasik yang mengilhami lagu tersebut. Judulnya Petualangan Pinocchio. Di Indonesia biasanya ditulis Pinokio. Jadi, biar lebih mudah dan sesuai dengan lidah orang Indonesia, hehe, Pinocchio akan kusebut dengan Pinokio. Buku Petualangan Pinokio  ini mengingatkanku pada sebuah lagu anak-anak yang berjudul Pinokio. Kutipan di atas adalah sebagian dari lirik lagu tersebut. Jika melihat cerita di buku ini, aku ingin mengubah lirik lagu yang kukutip tersebut. Pinokio bukan lagi boneka kayu yang lucu, tapi boneka kayu yang badung. Kusebut badung karena karakter Pinokio dalam cerita yang dominan dengan kenakalannya dan kebandelannya.

Cerita Pinokio telah diadaptasi ke dalam beberapa wahana. Bahkan perusahaan hiburan terbesar di dunia, Walt Disney, mengadaptasinya ke dalam film animasi Pinocchio. Jadi aku tahu ada karakter Pinokio dari film kartun, animasi, dan lagu anak-anak. Aku tidak tahu jika Pinokio berasal dari sebuah karya sastra klasik Italia. Oleh karena itu, membaca cerita Pinokio versi asli adalah suatu kesenangan tersendiri.

Identitas Buku

Judul: Petualangan Pinocchio

Pengarang: Carlo Collodi

Penerjemah: Lulu Wijaya

Tahun terbit: 2014 (cetakan pertama)

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978 602 03 0466 3

Sinopsis Petualangan Pinocchio (Petualangan Pinokio)

Pinokio adalah boneka tali yang dibuat oleh seorang tukang kayu bernama Geppeto. Sejak masih menjadi potongan kayu, kenakalan Pinokio sudah terlihat. Geppeto sangat menyayangi Pinokio sehingga Pinokio disebut sebagai anaknya sendiri. Akan tetapi, Geppeto juga orang tua yang cukup keras jika memberikan hukuman untuk Pinokio yang nakal. Pinokio juga suka berbohong. Setiap kali ia berbohong, hidungnya akan bertambah panjang. Selain itu, Pinokio juga membenci sekolah dan belajar.

Setiap kali Pinokio bertingkah nakal dan tidak mematuhi orang tuanya, ia selalu mendapat malapetaka. Banyak kejadian yang cukup mengerikan dan menyedihkan. Mulai dari ditipu rubah dan kucing, dipenjara di Kota Orang-Orang Dungu, dan dijadikan anjing penjaga ladang. Ia lalu menyesal dan berjanji untuk menjadi anak yang baik, akan rajin belajar dan tidak mengulangi kesalahannya lagi. Akan tetapi, ia tetap mengulangi kesalahan yang sama. Hal ini karena Pinokio mudah termakan omongan manis. Ia mudah terhasut oleh orang asing maupun teman-temannya yang mengajaknya untuk melupakan nasihat orang tua. Pinokio telah banyak dinasihati oleh para tokoh-tokoh bijak seperti Peri Berambut Biru, Jangkrik, Burung Nuri, dan Kepiting, agar mematuhi orang tua dan tidak mudah percaya dengan kata-kata orang yang terlihat menarik. Akan tetapi, nasehat mereka sering kalah dengan rasa penasaran Pinokio dengan omongan manis yang membuatnya tak berpikir panjang.

Pinokio mendapatkan masalah besar ketika menuruti hasutan temannya utuk pergi ke Negeri Mainan, negeri yang anak-anaknya tidak dibebani dengan sekolah dan belajar, hanya bermain-main setiap hari. Ia dan temannya berubah menjadi keledai. Nasibnya semakin buruk ketika ia dijual dan dijadikan hewan sirkus. Setelah mendapatkan kebebasan, ia kembali tertimpa nasib buruk.  Ia ditelan hiu raksasa dan mendapati ayahnya juga berada di perut ikan tersebut.  Setelah bebas dari perut ikan, ia betul-betul berubah menjadi anak baik, berhenti ingkar janji dan tidak menyusahkan orang tuanya. Karena ia benar-benar berubah dan tidak ingkar janji, Pinokio berubah menjadi anak laki-laki sungguhan, bukan lagi boneka tali yang malang. Kehidupannya dan ayahnya kini menjadi lebih baik.

Petualangan Pinokio dan Nasehat-Nasehat Klasik

Pinokio merupakan masterpiece dari pengarang Italia, Carlo Collodi. Cerita ini diterbitkan pertama kali di Italia tahun 1883 oleh Liberia Editrice Felice. Petualangan Pinokio merupakan karya sastra anak klasik Italia yang kini menjadi bahan bacaan anak-anak maupun orang dewasa di berbagai belahan dunia. Jika menilik dari pertama kali cerita ini terbit, maka cerita Pinokio sudah berumur 138 tahun. Cerita Petualangan Pinokio ini memuat banyak pesan moral klasik seperti: seorang anak harus mematuhi orang tua; anak yang tidak mematuhi orang tua akan tertimpa nasib buruk; kebaikan akan menang dan kejahatan akan kalah; anak yang baik adalah yang patuh; jangan mudah percaya dengan kata-kata manis. Sebagai cerita anak, Petualangan Pinokio memuat banyak pesan-pesan kebaikan, dan akibat dari perbuatan buruk. Tetapi ada beberapa bagian cerita yang memuat adegan kekerasan yang digambarkan dengan cukup gamblang. Kekerasan tersebut sebagai bentuk hukuman yang harus diterima pinokio akibat dari kenakalannya.

Kebaikan seseorang memang tidak bisa dinilai dari tampilan fisik, bahkan dari sebuah sikap baik itu sendiri. Orang yang berpenampilan seperti berandalan bisa jadi adalah orang yang berhati baik. Begitu pula sebaliknya, orang yang memakai pakaian rapi dan tampak alim, ternyata menyembunyikan kebusukan. Ada juga yang menjual kebaikan dan kata-kata manis untuk mendapatkan keuntungan atau untuk memperdaya orang lain. Tokoh Rubah dan Kucing adalah gambaran dari watak-watak tersebut. Begitu juga dengan kusir kereta menuju Negeri Mainan.

Sejak kecil kita telah diajari untuk selalu berbakti kepada orang tua, patuh kepada orang tua, dan tidak boleh melawan orang tua. Kadang sedikit-ditakut-takuti, jika membantah orang tua bisa tertimpa malapetaka. Mungkin kita bisa mengingat cerita Malin Kundang tentang betapa pentingnya nilai-nilai tersebut dalam masyarakat. Sepertinya Pinokio belum sampai tahap durhaka. Ia hanya bandel. Kebandelan yang diulang-ulang tentu terasa melelahkan bagi yang menasihati. Ketika kebandelan itu mencapai puncaknya, ia pun mendapat malapetaka yang lebih besar dari biasanya. Menjadi keledai adalah jelmaan yang menghinakan. Keledai merupakan binatang yang mendapat stereotip dungu, bodoh, dan memiliki suara yang buruk. Artinya, ada pesan yang disampaikan oleh penulis. Anak-anak yang tidak mau belajar dan membenci sekolahan, hanya bermain-main sepanjang hari akan menjadi bodoh, tak ubahnya seperti seekor keledai. Seperti Pinokio yang membenci belajar dan sekolahan, lalu menuruti hasutan temannya untuk pergi ke Negeri Mainan, negeri yang membuatnya bebas dari beban belajar di sekolah, hanya bermain sepanjang sepajang hari.

Negeri Mainan adalah sebuah gambaran kesenangan semu. Bagi anak-anak, bermain adalah salah satu hal yang menyenangkan. Sekolah menjadi salah satu momok yang membosankan. Akan tetapi, hidup bukan hanya mengejar kesenangan. Ada tantangan dan ujian yang harus dilewati. Jika sekolah dianggap sebagai salah satu ujian hidup, maka itu ada untuk membuat kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, orang tua selalu menasihati anaknya agar rajin belajar, biar kelak bernasib baik. Orang yang tidak sekolah nanti bernasib buruk. Terlalu banyak bermain menyebabkan lupa belajar dan lama-lama malas sekolah lalu menjadi bodoh. Penghuni Negeri Mainan sendiri adalah anak-anak laki-laki umur delapan sampa empat belas tahun yang membenci sekolah. Anak anak usia sekolah. Mereka hanya ingin bermain sepanjang hari. Pelajaran sekolah memang kadang terasa berat bagi anak-anak, sehingga anak-anak lebih senang bermain daripada sekolah. Nah, Negeri Mainan merupakan perumpamaan yang menarik untuk keadaan tersebut. Pada akhirnya anak-anak di Negeri Mainan berubah menjadi keledai setelah menikmati kesenangan yang hanya sementara. Aku tidak tahu apakah anak laki-laki di Italia pada tahun 1880-an mendapat stereotip malas belajar, atau pendidikan hanya ditekankan kepada anak laki-laki? Kalau teman-teman pembaca tahu, bisa memberikan tanggapan di kolom komentar, ya.

Pada salah satu percakapan antara Pinokio dan Peri Berambut Biru, penulis secara langsung menyisipkan beberapa hal yang menjadi indikator anak baik. Anak baik yaitu anak yang patuh, anak yang suka belajar dan bekerja, anak yang selalu berkata jujur, dan anak yang senang pergi ke sekolah (hlm. 114).  Balas budi dan menghargai perbedaan pendapat juga menjadi pesan moral disisipkan penulis dalam cerita ini.  Tentu saja ini bukan bermaksud mendikte pembaca. Jika pembacanya adalah anak-anak, maka ini menjadi tuntunan dan gambaran mengenai anak baik yang dimaksud penulis. Di luar itu, saya yakin bahwa pembaca anak-anak bisa menyebutkan perbuatan baik lebih dari itu.

Petualangan Pinokio adalah cerita edukatif sekaligus menghibur. Pada bagian awal cerita ini saja sudah dibuka dengan nada jenaka. Pinokio merupakan cerita yang menarik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Lewat cerita ini, anak-anak tidak hanya diberi petuah dan didikte untuk bersikap demikian agar mendapatkan label sebagai anak baik. Akan tetapi pembaca turut diajak menalar, mana yang perbuatan baik, mana yang tidak baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.