resensi buku animal farm
fiksi,  ulasan

Resensi Buku Animal Farm-George Orwell: Kritik Terhadap Sebuah Kekuasaan

Resensi Buku Animal Farm – George Orwell-Pernahkah terpikir olehmu, apa yang dipikirkan oleh hewan-hewan yang setiap harinya dipekerjakan oleh manusia tetapi hanya diberi upah pakan? Mereka yang diperas keringatnya, tetapi manusia yang menerima keuntungannya. Setelah hewan-hewan itu tua dan tidak bisa dipekerjakan lagi, mereka akan dijual ke tukang daging untuk dijadikan makanan manusia atau pakan anjing. Dengan demikian, bukankah manusia telah melakukan perbudakan terhadap binatang? Bagaimana jika hewan-hewan bisa memikirkan hal itu dan akhirnya mereka memberontak terhadap manusia?

Inilah yang terjadi pada binatang-binatang di peternakan Manor milik Pak Jones. Ternak-ternak di sana merasa telah diperbudak oleh Jones. Hewan-hewan itu yang bekerja keras tetapi manusia yang menikmati hasilnya. Mereka hanya mendapat ganti pakan yang banyak agar tetap hidup. Mereka pun merencanakan pemberontakan. Mereka ingin hidup tanpa diatur dan diperas oleh manusia. Akan tetapi, apakah mereka bisa lebih baik jika hidup tanpa manusia? Kamu bisa membaca resensi buku Animal Farm ini sampai akhir untuk mengetahui ulasan secara keseluruhan.

Identitas Buku

Judul: Animal Farm

Pengarang: George Orwell

Penerjemah: Bakdi Soemanto

Penerbit: Bentang Pustaka

Halaman (fisik): 142 hlm.

Sinopis Buku Animal Farm

Ternak-ternak Pak Jones berhasil memberontak meski sang pencetus Major, si babi senior pencetus ide pemberontakan, telah mati sebelum pemberontakan terjadi. Pak Jones dan istrinya telah melarikan diri dari peternakan Manor. Binatang-binatang itu pun merasa merdeka. Mereka akhirnya bisa mengambil alih peternakan Manor. Nama peternakan diubah menjadi Peternakan Binatang. Prinsip binatangisme dibuat. Prinsip yang dianggap ideal untuk kehidupan hewan-hewan. Semua binatang setara. Manusia dan segala makhluk berkaki dua tanpa sayap adalah musuh. Kepemimpinan diserahkan kepada bangsa babi yang dianggap paling pandai dibanding hewan ternak yang lain. Snowball, sang babi yang pandai berkomunikasi, ditunjuk untuk mengkoordinir peternakan.

Pekerjaan telah dibagi. Mereka panen lebih baik daripada masa perbudakan Jones. Semua bekerja dengan bahagia karena keuntungannya akan mereka nikmati sendiri, bukan dinikmati manusia. Tetapi masalah mulai muncul ketika Napoleon, babi yang pandai mencari dukungan, melengserkan Snowball dengan modal sarkasme, menghasut hewan-hewan pekerja, dan ancaman anjing-anjing ia ambil dari induknya saat baru lahir. Napoleon menduduki kursi pemimpin Peternakan Binatang. Hasutan Napoleon dan ancaman anjing membuat hewan-hewan itu terpaksa menerima Napoleon.

Setelah menjatuhkan nama baik Snowball di mata hewan-hewan, mereka pun percaya pada Napoleon. Ternyata mereka keliru. Napoleon tak sebenar yang mereka kira. Banyak kejanggalan yang terjadi setelah Napoleon menjadi pengatur peternakan. Hewan-hewan harus bekerja sangat keras tetapi mereka hanya menerima sedikit keuntungan. Selebihnya diambil oleh babi dan anjing. Prinsip Binatangisme banyak yang dilanggar. Yang paling parah, Napoleon bekerja sama dengan manusia pemilik peternakan sebelah. Bukankah itu sudah melanggar Prinsip Binatangisme? Ketika hewan-hewan itu meminta keledai untuk membaca kembali prinsip binatangisme, mereka tidak bisa menemukan kesalahan Napoleon dan para babi karena prinsip binatangisme itu sendiri telah diubah sesuai kehendak para babi. Hewan-hewan tidak menyadarinya karena tidak ada yang hafal semua prinsip. Selain itu, mereka tidak bisa membaca. Hanya kelompok babi dan seekor keledai tua yang bisa membaca.

Bagaimana hewan-hewan di peternakan binatang menghadapi hari-hari  mereka setelah melihat begitu banyak kejanggalan? Apakah mereka kembali akan memberontak? Apakah mereka berhasil mewujudkan mimpi mereka untuk merdeka?

Resensi Buku Animal Farm-George Orwel

Buku ini sungguh di luar ekspektasiku. Aku tak menyangka jika buku tipis yang kemasannya mirip dongeng ini begitu kompleks. Ini adalah satire terhadap kekuasaan yang dikemas seperti fabel.

Karakter binatang-binatang dalam Animal Farm adalah simbol dari kehidupan politik para penguasa dengan orang-orang biasa. Major yang mencetuskan ide-ide pemberontakan seperti tokoh-tokoh revolusioner dengan pemikiran kirinya. Penggunaan karakter Napoleon sebagai pemimpin peternakan sangat pas sekali untuk kritik. Apalagi Babi adalah hewan yang citranya buruk. Namanya sering dijadikan umpatan untuk hal-hal yang jelek. Babi dengan perut gendutnya juga dijadikan simbol kerakusan. Karakter Napoleon persis seperti penguasa yang hanya mementingkan keuntungannya sendiri.

Napoleon mengangkat anjing-anjing sebagai bodyguard-nya. Siapa yang tidak setuju, geraman anjing lah ancamannya. Keberadaan anjing-anjing sebagai pasukan elite ini sangat membantu Napoleon untuk mengunci mulut hewan-hewan pekerja yang ingin memprotes kebijakannya. Anjing-anjing ini juga akan membunuh siapapun yang melakukan kesalahan. Persis bukan, seperti penguasa yang membungkam suara rakyatnya? Karakter Babi dan Anjing sebagai atasan merupakan kritik yang “masuk” banget untuk penguasa tiran, korup, dan totaliter.

Hewan-hewan pekerja seperti kuda, keledai, biri-biri, ayam, dan lain-lain adalah rakyat dari berbagai golongan yang dibodoh-bodohi dan dibungkam suaranya. Mereka dipaksa percaya pada pemimpin mereka. Peternakan Binatang tampak luar biasa di mata pihak luar. Akan tetapi, tidak ada yang melihat kerapuhan pekerja dan kerakusan penguasa yang ada di dalamnya. Kuat dari luar tapi sakit dari dalam. Seperti zaman siapa ya ini? Heuheuheu.

Animal Farm berlatar peternakan Inggris. Lingungan peternakan khas Eropa digambarkan dengan jelas. Peternakan Binatang juga memiliki lagu anthem yang berjudul Binatang Inggris, (Beasts of England). Lagu ini menjadi populer setelah diaransemen untuk adaptasi film. Latar ceritanya mengingatkanku pada novel tipis Of Mice and Men karya John Steinbeck. Keduanya memiliki latar yang mirip. Ceritanya juga sama-sama didasari oleh peristiwa sejarah. Jika pada Of Mice and Men diilhami oleh peristiwa Great Depression, Animal Farm merefleksikan Revolusi Rusia.

Cerita ini seolah mengajak pembaca untuk ikut ke arah mana revolusi para binatang ini akan dibawa. Setiap bab selalu ada kejutan. Alurnya yang page turner membuatku ingin terus menerus membalik, eh, menggulir halaman demi halaman ebook yang kupinjam di Ipusnas ini. Aku tidak menyangka jika jalan ceritanya sekompleks ini. Kita seolah sedang diajak menilik kembali sebuah revolusi sosial yang tokoh-tokoh pentingnya disimbolkan dengan binatang. Meski novel ini berbicara tentang revolusi dan pemberontakan, novel ini bukan tipe novel epik dengan ending dramatik. Tetapi endingnya cukup nyastra. Cerita ini memang tampak seperti fabel, tetapi ini bukan fabel seperti pada cerita anak. Animal Farm terlalu kompleks untuk disebut fabel.

Meskipun cerita ini dikemas seperti fabel, kesan satire tampak menonjol. Gaya penceritaan yang lugas memperkuat kesan tersebut. Meskipun demikian, cerita ini tidak membosankan untuk dibaca. Penerjemahannya juga bagus. Sangat bagus malah. Diterjemahkan oleh Prof. Bakdi Soemanto, yang juga seorang sastrawan. Kurasa gaya penulis sangat cocok untuk Animal Farm yang bermuatan kritik.

Aku membaca Animal Farm tanpa membaca ulasan dari pembaca lain terlebih dahulu. Aku hanya melihatnya sering melintas di beranda bookstagramku. Alhasil aku dibuat terkejut oleh isi ceritanya. Aku tidak menyangka ceritanya akan sekeren ini. Sebelum aku membuat resensi buku Animal Farm ini, barulah aku mencari tahu tentang novel ini. Ternyata Animal Farm adalah refleksi revolusi di Rusia saat masih berbentuk kekaisaran. Meski cerita ini adalah alegori dari revolusi di Uni Soviet yang mengkritik totalitarian Stalin, satire ini juga bisa jadi kritik untuk penguasa diktator di tempat lain. Termasuk di negara kita. Pernah ada kan, tokoh yang seperti Napoleon di negeri ini? 

Animal Farm menggambarkan sebuah pemberontakan rakyat yang dimpimpin oleh orang  revolusioer untuk kehidupan yang lebih baik dan merdeka. Tetapi setelah pemberontakan itu berhasil, rakyat itu justru dikhianati oleh orang-orang yang selama ini mereka gadang-gadang. Tidak dapat dipungkiri, manusia punya peluang untuk korup. Semakin besar power, semakin besar peluang tersebut. 

Kesimpulan

Cerita ini bukan tentang manusia dari pandangan hewan. Bukan nasib kehidupan binatang jika manusia tidak mengambil manfaatnya. Binatang-binatang dalam cerita ini adalah simbol, bukan harfiah. Buku ini layak untuk kamu baca. Bukunya tipis dan ringan tetapi isinya cukup mind blowing. Kamu bisa membacanya kapan saja. Kamu tidak perlu khawatir akan bingung dengan ceritanya karena bahasanya mudah dipahami. 

Sekian resensi buku Animal Farm dariku. Kalian pernah baca bukunya? Kalau ada diskusi bisa disampaikan di komentar. Sampai jumpa di tulisan berikutnya ya!

^^

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *