review buku anne of green gables
fiksi,  ulasan

Review Buku Anne of Green Gables Lengkap

Review Buku Anne of Green Gables – Anne of Green Gables adalah sebuah novel klasik karya Lucy Maud Montgomery, penulis asal Kanada. Novel ini memiliki pembaca dari berbagai penjuru negara. Novel ini juga menjadi bacaan favorit dan telah diadaptasi ke dalam drama, film, dan serial. Jika melihat sepak terjangnya, sepertinya novel ini memang bukan kaleng-kaleng. Sebagus apa sih novelnya? Apa yang menarik dari novel ini? Nah, sebentar lagi teman-teman akan tahu jawabannya setelah membaca review buku Anne of Green Gables ini sampai selesai. Jangan diskip ya! Siapa tahu ada typo yang luput dari pengawasanku, nanti teman-teman boleh tolong kasih tahu, hehe.

Identitas Buku

  • Judul: Anne of Green Gables
  • Pengarang: Lucy Maud Mountgomery
  • Tahun terbit: 2022
  • Penerbit: Mizan
  • ISBN: 178 602 441 277 7

Sinopsis Anne of Green Gables

Seorang gadis kecil berambut merah dan bergaun pudar duduk di stasiun, menanti seseorang yang akan datang menjemputnya. Kata orang yang membawanya, ia akan memiliki orang tua baru setelah sekian lama tinggal di panti asuhan dan dioper ke sana kemari. Seseorang itu pun datang. Lelaki paruh baya yang sedikit canggung dan sepertinya juga terkejut melihat Anne. Lelaki itu bernama Matthew. Dan benar, bahwa lelaki itu dan saudara perempuannyalah yang nanti akan mengasuhnya dan membawanya ke rumah baru di Green Gables. Akan tetapi, ada satu hal yang membuat gadis itu bersedih, bahwa calon orang tuanya sebenarnya meninginkan anak laki-laki. Bukan anak perempuan yang pucat, kurus, berambut merah, wajahnya berbintik dan tampak aneh, seperti dirinya.

Gadis kecil itu bernama Anne. Sosoknya yang berambut merah, kurus, bergaun usang dan pendek, kulitnya pucat dengan bintik-bintik di pipinya, sering mendapat tatapan aneh dari orang-orang. Perilaku dan kata-katanya kadang juga membuat orang-orang di sekelilingnya tidak habis pikir. Marilla, saudara perempuan Matthew, menerima Anne dengan terpaksa. Salah satu tetangganya bahkan terkejut saat melihat cara Anne merespon penilaiannya terhadap anak tersebut dan tidak yakin bahwa Marilla mendapatkan anak yang “benar”.

Akan tetapi, setelah menerima Anne selama beberapa hari di rumahnya, Marilla seperti mendapatkan suasana baru. Yang pasti rumah tak pernah membosan semenjak kehadiran Anne. Meski kata-kata ajaib dan kelakuannya yang aneh kadang membuat masalah, rumah di Green Gables menjadi semakin berwarna. Ada sesuatu yang membuat hati Marilla luluh dan perlahan menyayangi Anne meski perasaan itu tak pernah ia tampakkan. Dan, keanehan Anne sebenarnya adalah karena ia anak yang cerdas. Tapi ada satu ucapan paling membekas dari teman sekelas Anne yang tak pernah bisa Anne lupakan dan maafkan. Hingga suatu hari peristiwa tragedi berbahaya yang sangat konyol menyadarkan Anne tentang dendam yang telah menguap. Seperti apa detail ceritanya, bisa teman-teman baca sendiri di bukunya.

Review Buku Anne of Gren Gables

Tidak heran jika novel klasik ini banyak digemari oleh pembaca di berbagai belahan dunia. Kurasa Green Gables dan isinya mampu membuat pembaca mengimajinasikan keindahan suasana pemandangan lorong hijau dengan tanaman-tanaman apel, pertanian yang indah, gaun-gaun berenda cantik, makanan-makanan yang enak, dan rutinitas yang menyehatkan pikiran. Aku pun memaksakan diri untuk menulis review buku Anne of Green Gables ini. Pada ulasan ini, ada beberapa hal menarik yang bisa kita bahas. Berikut uraiannya.

Tokoh, Latar, Alur, dan Suasana Cerita Buku Anne of Green Gables

Kalau kamu membaca cerita ini, kamu bisa membayangkan gaun muslin yan dikenakan gadis-gadis pada akhir abad 19, kebun-kebun dan tanah pertanian di daerah suburban, pokoknya kalau kamu pernah mendengar atau tahu suasana cottagecore, kamu akan mendapatkan suasana dan latar seperti itu di dalam novel ini. Apakah bagus? Menurutku sih bagus. Tapi cerita yang bermakna kan bukan sekedar bagus atau tidak bagus. Cerita yang tidak mendapatkan predikat bagus dari pembaca bukan berarti tidak layak untuk kita baca. Begitu pula cerita yang mendapat predikat bagus menurutku belum tentu jelek menurut pembaca lain. Iya kan? Jelas iya.

Kalau teman-teman pernah membaca novel Little Women, nah, alur cerita Anne of Green Gables ini mirip dengan novel tersebut. Cenderung lambat. Meski tidak semenghanyutkan Little Women, Anne of Green Gables banyak memberikan kejutan.

Aku menyukai latar cerita Anne of Green Gables dan bagaimana cara penulis menggambarkan latar tersebut. Penggambaran latar cerita sangat mudah untuk diimajinasikan oleh pembaca sehingga pembaca tertular Anne yang suka mengkhayalkan sesuatu hal yang tak bisa ia miliki. Ada kebun apel, danau Barry, kanopi yang rindang, dan tentu saja Green Gables, dan latar-latar lain yang dinamai secara suka-suka oleh Anne, suasana rumah yang sederhana tapi produktif, dan rutinitas yang menyehatkan pikiran. Ini mengingatkanku pada cerita Cinta Terakhir Baba Dunja. Ah, aku jadi ingin tinggal di Green Gables.

Bisa dibilang cerita ini hidup karena penggambaran karakter Anne. Ya memang, tokoh utama mendapat porsi yang pas di novel ini. Tanpa Anne, Green Gables tidak akan masuk novel dan dikenal pembaca. Penggambaran tokoh Anne dan kejadian yang dialami membuat cerita ini terasa lebih hidup. Berikut hal-hal yang menarik dari karakter Anne.

Kena Body Shaming Karena Berambut Merah

Kita mungkin sering mendengar perundungan terhadap orang-orang karena anggota tubuh mereka, seperti hidung pesek, rambut keriting, kulit hitam, dll. Padahal tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Tidak hanya itu. Ternyata rambut merah juga menjadi sasaran bully. Beberapa media luar negeri menyebutkan bahwa orang dengan rambut merah masih mendapatkan diskriminasi. Mereka terdiskriminasi karena stereotip bahwa rambu merah membawa karakter warna merah seperti mudah marah, berapi-api, warna iblis, dan juga mitos-mitos lain terkait orang berambut merah.

Anne digambarkan sebagai anak yang berambut merah. Anne sendiri memiliki ciri-ciri fisik bertubuh kurus, kulit putih pucat dengan bintik-bintik di pipinya. Ia penuh semangat, berbicara apa adannya, suka mengeluarkan kata-kata yang “canggih”, dan gampang meledak jika ada orang yang menyingungnya. Anne sempat merasa tidak percaya diri dengan rambutnya. Ia bahkan sampai mengecat rambutnya menjadi warna hijau dan berakhir dengan malapetaka. Salah satu temannya memanggilnya wortel karena rambutnya. Yah, ternyata body shaming memang tak terbatas pada ruang dan waktu. Ia sudah ada sejak sebelum kata “body shaming” booming.

“Sang Gadis Kecil membiarkan kepangan rambutnya jatuh kembali ke belakang sambil menyuarakan sebuah desahan yang tampaknya muncul dari lubuk hatinya yang terdalam, kemudian menghembuskan segala kesedihan yang dia rasakan selama hidupnya.

“‘Ya, memang warnanya merah,’ dia menjawab dengan penuh kepasrahan. ‘Sekarang, Anda mengetahui mengapa aku tidak bisa sangat bahagia…'”

(hlm. 40-41)

Jadi, rambut merah Anne ini karena bawaan genetik ya, bukan karena dicat merah. Rambut merah adalah genetik yang langka. Gen ini dimiliki oleh dua persen dari populasi manusia. Tapi ternyata kelangkaan tersebut tidak menjadikan beberapa orang mengaguminya, malah mendiskriminasinya. Padahal kalau dipikir-pikir, bukankah rambut merah itu berarti istimewa? Karena ia termasuk bagian dari 2%.

Imajinasi Atas Hal-hal yang Tidak Dapat Dimiliki

Dari Anne aku belajar, jika kita tidak bisa memiliki sesuatu yang kita inginkan, kita bisa memiliki itu semua dengan membayangkannya dalam khayalan kita, hehe.

Tapi memang benar, Anne di sini adalah anak yang suka berimajinasi. Ia seringkali mengimajinasikan sesuatu hal indah yang ingin ia miliki tapi tak bisa, atau hal-hal kurang indah yang ia paksa untuk menjadi indah lewat imajinasinya. Sesuatu yang tidak sesuai dengan kemauan hatinya juga akan diimajinasikan sesuai keinginanya. Lihat saja pada kutipan berikut.

“Jika aku tidak menyukai nama tempat atau seseorang, aku selalu membayangkan suatu nama baru dan selalu berpikir bahwa mereka memang memiliki nama seperi itu. Ada seorang gadis di panti asuhan yang bernama Hepzibah Jenkins, tapi aku selalu membayangkan bahwa namanya adalah Rosalina De Vere. Orang lain boleh saja menyebut tempat itu Jalan Utama, tapi aku akan selalu menyebutnya Jalan Putih nan Membahagiakan.”

(hlm. 44)

Anak Cerdas yang Dianggap Aneh

Menjadi cerdas adalah suatu anugerah. Anak yang cerdas juga menjadi salah satu kebahagiaan orang tua. Akan tetapi anak cerdas biasanya berbeda dengan anak-anak normal pada umumnya. Bukan hal yang asing lagi kalau anak cerdas biasanya dianggap aneh oleh orang lain karena kata-kata, pikiran, dan kelakuan mereka yang kadang out of the box.

“‘Kau gadis yang aneh, Anne. Sebelumnya aku juga mendengar bahwa kau aneh. Tapi, aku percaya, aku akan benar-benar menyukaimu.'”

(hlm. 157)

Sejak awal kehadirannya, Anne sudah mendapat tatapan dan pandangan aneh dari orang-orang di Avonlea. Akan tetapi, lambat laun mereka menyadari bahwa keanehan yang ada pada diri Anne disebabkan karena Anne anak cerdas. Di sekolah ia terhitung sebagai anak terpandai di kelasnya. Meski kelakuan ajaibnya sempat merepotkan gurunya.

Memandang Hidup dari Sisi yang Indah

Anne menyukai hal-hal yang indah. Jika ia menjumpai tempat yang indah tetapi nama tempat itu menurutnya tidak indah, ia akan mengganti nama itu dengan nama yang menurutnya indah. Anne juga selalu mengagumi pemandangan yang indah di Green Gables. Dengan cara inilah ia menciptakan kebahagiaan hidup.

Memang salah satu cara untuk menikmati hidup adalah dengan mengagumi keindahan yang ada di sekitar. Secara tidak sadar, hal-hal indah yang menciptakan kekaguman memberikan kita rasa bahagia. Perasaan bahagia itu lah yang bisa menjadi penyeimbang dari penatnya menghadapi hidup. Hal-hal kecil yang indah kadang terlewatkan begitu saja; sinar matahari pagi yang masuk ke celah-celah jendela, daun putri malu yang menguncup saat bersinggungan dengan jemari, bunga-bunga yang mulai bermekaran, serta kicauan burung-burung di pepohonan. Memang hal-hal seperti ini tidak mudah kita dapatkan jika kita tinggal di kota. Akan tetapi, kita masih bisa menikmati hidup dengan rutinitas yang menyehatkan pikiran. Aduh, kenapa malah jadi ceramah kesehatan mental ya. Tapi memang dewasa ini kesehatan mental semakin dipedulikan dan dibicarakan kan ya. Jadi kalau aku ikut-ikutan membahasnya, aku sudah bisa dibilang peduli kesehatan mental belum?

Oke, kembali lagi ke review!

Last But Not Lost

Buku Anne of Green Gables ini cocok dibaca oleh remaja dan teman-teman yang menyukai tema cottagecore. Oh, iya, kapan-kapan aku akan membuat tulisan tentang rekomendasi buku-buku dengan tema cottagecore yang akan mengestetikkan imajinasimu. Tunggu ya!

Sekian review buku Anne of Green Gables dariku. Terima kasih buat teman-teman yang sudah membaca, berkomentar, membagikan tulisan ini, maupun sekedar gulir-gulir halaman. Semoga harimu menyenangkan. Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *