buku food combining di bulan ramadhan
nonfiksi,  ulasan

Review Buku Food Combining di Bulan Ramadhan – Erikar Lebang

Mumpung masih berada di bulan Ramadhan, mari kita bahas buku yang berhubungan dengan Ramadhan, yaitu buku Food Combining di Bulan Ramadhan. Rasanya masih kurang lengkap jika membahas Ramadhan tapi tidak membahas makanan yang kita konsumsi selama Ramadhan.Kenapa makanan? Karena pada bulan Ramadhan pola makan kita berbeda dengan hari-hari biasanya. begitu pula dengan macam-macam makanan yang kita konsumsi karena keberadaan takjil. Pada buku Food Combining di Bulan Ramadhan ini, kita akan diajak untuk menilik kembali pola makan kita, apakah kita telah makan dengan cara yang benar atau sekedar makan karena balas dendam?

Food Combining. Pernahkan teman-teman dengar istilah tersebut? Apa hubunganya dengan Ramadhan? Untuk apa food combining pada bulan Ramadhan? Untuk tahu lebih banyak, baca ulasan berikut sampai selesai ya!

Baca juga: Macam-Macam Makanan/Camilan untuk Teman Baca Buku

Identitas Buku

Judul: Food Combining di Bulan Ramadhan

Pengarang: Erikar Lebang

Tahun terbit: 2013 (cetakan ketiga)

Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Ukuran Buku: xvi + 120 hlm; 13 x 19 cm

ISBN: 978 979 709 723 3

Ringkasan Buku Food Combining di Bulan Ramadhan

Buku ini membahas tentang bagaimana cara makan yang tepat ketika Ramadhan. Kita berpuasa pada bulan Ramdhan. Puasa itu berfungsi untuk mengeluarkan racun tubuh. Akan tetapi proses tersebut tidak berjalan jika kita asal dalam mengkonsumsi makanan selama bulan Ramadhan. Oleh karena itu, kita perlu food combining agar fungsi puasa sebagai penyehat tubuh tetap relevan. Food combining membuat pola makan kita tetap terjaga sehingga kita bisa menyambut Idul Fitri dengan badan yang sehat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa ketika Ramadhan, pasar kuliner lebih melimpah dari biasanya. banyak aneka manakan manis-manis. Sebelum buka puasa, rasanya kita ingin membelinya semua. Tetapi sebenarnya, mengkonsumsi banyak makanan manis olahan untuk beruka puasa tidak baik untuk kesehatan tubuh. Tubuh kita memerlukan asupan nutrisi yang seimbang, tetapi lapangan menyediakan penuh gula. Padahal, tubuh kita membutuhkan nutrisi yang lebih kompleks dari sekedar gula.

Food combining atau mengkombinaskan makanan, maksudnya bukan membuat pola makan seperti orang diet, tetapi lebih cenderung kepada memakan apa yang dibutuhkan tubuh daripada apa yang kita inginkan. Untuk itu, kita perlu mengetahui bagaimana cara menjaga pola makan yang benar tanpa terkesan membatasi kita dalam mengkonsumsi makanan yang enak.

Review Buku Food Combining di Bulan Ramadhan

Buku ini menyenangkan dan ringan dibaca. Hanya saja beberapa kalimatnya kurang efektif dan terkesan ambigu. Meski buku ini pada dasarnya menjelaskan tentang makanan sehat, akan tetapi buku ini justru menganjurkan untuk menjauhi konsumsi protein hewani. Hal ini menjadikan buku ini terasa seperti sebuah ajakan untuk menjadi vegan. Aku berpikiran demikian mungkin karena aku sering menonton tayangan pola makan ala fitnes yang justru meganjurkan untuk mengkonsumsi banyak protein. Tetapi kukira ini sesuai dengan tujuan dari food combining itu sendiri yaitu sebagai detoksifikasi. Meski aku kurang begitu paham dengan fungsi-fungsi nutrisi yang ada di dalam makanan untuk tubuh, aku pernah mendengar salah seorang influencer kesehatan, diet, dan olahraga, mengatakan kalau pada pagi hari ia menghindari memakan produk hewan untuk membersihkan usus. Sepertinya ini sejalan dengan detoksifikasi tadi. Tetapi aku tidak akan membahas lebih lanjut masalah protein hewani ini karena bukan kapasitasku.

Mungkin food combining yang dijelaskan dalam buku ini membuat pola makan menjadi terkesan ribet dan banyak aturan. Tetapi sebenarnya pola makan yang dimaksud dalam food combining di sini tidak jauh berbeda dengan pola makan sehat seperti yang dicontohkan oleh para ahli gizi. Hanya saja ada beberapa perbedaan dalam pengaturan komposisi makanan, tata cara, dan waktu makan. Kurasa perbedaan ini berhubungan dengan istilah “food combining”  itu sendiri yang dimaksudkan sebagai detoksifikasi tubuh. Jadi, “food combining”  tidak sekedar menciptakan standar pola makan sehat sehari-hari tetapi juga tentang bagaimana agar makanan juga bisa menjadi penyembuh atau obat. Aku juga teringat dengan kata-kata seorang dokter influencer, “food is medicine”. Kata-kata ini sering ia ulang-ulang ketika ia mengunggah foto makanan yang ia makan di twitter. Ya, makanan sebenarnya bisa menjadi obat jika kita tahu mana yang tepat untuk tubuh kita, mana yang benar-benar dibutuhkan tubuh kita.

Aku bisa menangkap bahwa apa yang disampaikan oleh penulis ini memang baik. Apalagi pada bagian terakhir penulis memberikan contoh resep-resep food combinig di bulan Ramadhan sekaligus waktu makannya. Untuk melihat resep-resepnya teman-teman bisa membacanya sendiri di bukunya. Ada satu hal yang menarik yaitu tentang balas dendam saat berbuka. Kita berbuka puasa dengan kalap dan rakus karena kita takut akan kelaparan. Padahal semua makanan yang sebelumnya ingin kita cicipi semua itu belum tentu dibutuhkan oleh tubuh ita. Juga ketika kita makan secukupnya yang kita rasa sedikit, tubuh tidak akan kelaparan dan kelelahan kecuali kita melakukan aktivitas berat melebihi kuli. Kalau ini sih aku merasakannya sendiri. Ketika kita berbuka dengan terlalu banyak makanan, apalagi yang berkedar gula tinggi, kita akan mudah merasa capek dan mengantuk pada malam harinya. Begitu juga dengan makanan yang kita makan selama sahur. Mungkin kita pernah berpikir bahwa kita harus makan sahur sebanyak-banyaknya agar kita tidak kelaparan siang hari. Apalagi buat orang Indonesia, kalau perlu nasinya dilebihkan. Kalau sudah begini, ketika di rumah hanya ada mi instan, kadang kita membuat menu sahur berupa nasi dan Mi instan sebagai lauk. Nah, contoh seperti ini lah yang mesti dibenahi.

“Umumnya bersahur para pelaku mengonsumsi makanan dengan semangat “kalap” seakan dipenuhi rasa takut bahwa mereka akan kelaparan sepanjang hari. Dan saat berbuka semangat “membalas dendam” dimunculkan, seakan mereka telah kelaparan selama berhari-hari.”

(hlm. 7).

Memang dalam buku ini tidak banyak menjelaskan mengenai bagaimana pola makan yang salah. Tetapi dengan penulis menjelaskan mengenai nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan tubuh, kita bisa menebak sendiri makanan apa saja yang sekiranya diperlukan oleh tubuh kita dan seberapa banyak kadarnya.

Buku ini ditulis oleh Erikar Lebang, seorang sarjana desain komunikasi visual tetapi akhirnya mempelajari ilmu gizi dari sisi naturopati dan memilih berkarir  pada dunia olahfisik dan kesehatan. Buku ini didesain dengan model cetakaan berwarna. Pada halaman isi, kita akan menemukan warna-warna hijau dan bebebrapa ilustrasi dari Cindy Alif untuk melengkapi penjelasan penulis. Desain buku yang berwarna ini membuat mata tidak bosan dan membuat buku yang ringan ini semakin meriah. Bagi yang senang dengan buku-buku berwarna, buku ini bisa dimasukkan ke dalam wishlist.

Buku ini cocok bagi yang sedang mencari panduan untuk mengatur pola makan dan hidup sehat. Buku ini juga cocok banget loh dijadikan teman ngabuburead alias baca buku untuk menunggu maghrib. Tetapi bagi teman-teman yang lain juga boleh banget kok baca ini buat sekedar ingin tahu isi bukunya saja, seperti aku misalnya, hehe.

Nah, demikian review buku Food Combining di Bulan Ramadhan di tulisan ini. Teman-teman pernah membaca juga kah? Apa pendapat teman-teman mengenai buku ini? Kalau ada diskusi atau pertanyaan bisa tulis di kolom komentar ya. Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.