review novel good wives
fiksi,  ulasan

REVIEW NOVEL GOOD WIVES (LITTLE WOMEN 2) – LOUISA MAY ALCOTT

Review Novel Good Wives-

Novel Good Wives merupakan lanjutan dari novel Little Women yang ditulis oleh Louisa May Alcott. Pada awalnya, novel Good Wives digabung mejadi satu dengan Little Women. Akan tetapi, penulis kemudian membaginya menjadi dua bagian. Novel ini terbit pertama kali pada tahun 1869. Berikut ini review novel Good Wives karya Louisa May Alcott.

Identitas Buku

Judul: Good Wives

Pengarang: Louisa May Alcott

Penerjemah: Annisa Cinantya Putri & Widya Kirana

Tahun terbit: 2014 (cetakan pertama)

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Ukuran buku: 416 hlm; 20 cm

ISBN: 9786020310350

Sinopsis Novel Good Wives

Meg baru saja menikah dan mengalami berbagai suka duka kehidupan rumah tangga. Jo semangat untuk mengejar mimpinya menjadi seorang penulis besar. Sifat tomboinya masih melekat, tapi ia mulai belajar untuk menampakkan sisi lembutnya setelah mendapat pelajaran. Beth tetap menjadi anak kesayangan yang rajin meski sudah tak sesehat dulu. Amy yang paling muda selalu belajar untuk bersikap layaknya seorang lady, sebagaimana impiannya. Hal ini membawa keberuntungan bagi Amy. Sikap Amy tersebut menyenangkan kerabatnya, sehingga ia diajak Bibi Carrol untuk pergi ke luar negeri. I mendapat banyak pengalaman, meski harus menerima kabar duka di tengah-tengah perjalanannya mengelilingi Eropa. Di sana pula Amy akhirnya menemukan cintanya. Hal ini membuat Jo merasa bahwa hidup tidak adil, Amy selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, sementara Jo harus selalu mengorbankan dirinya untuk bekerja keras. Akan tetapi, peristiwa ini juga lah yang membuat Jo sadar akan kesalahan yang telah dilakukannya dan akhirnya ia berniat untuk belajar untuk membenahi sikapnya.

Beth merahasiakan keadaan kesehatannya dari kedua orang tuanya. Akan tetapi, pada akhirnya ia mau membagikan beban yang dideritanya kepada Jo. Beth adalah salah satu sumber semangat Jo untuk terus bekerja keras. Sementara Laurie baru saja menyelesaikan kuliahnya, jatuh cinta dengan salah satu gadis March, tapi perjalanan cintanya penuh liku dan sempat membuatnya putus asa. Sementara itu, Jo mencari suasana baru dengan bekerja sebagai guru menjahit di rumah Mrs. Kirke. Di sana ia bertemu dengan Bhaer. Kehadiran sang professor tersebut menjadi warna baru dalam kehidupan Jo, sekaligus menerbitkan sedikit cemburu di hati Laurie.

Jo yang berprinsip lebih baik menjadi perawan tua daripada menikahi orang yang tidak dicintai kadang merasakan kesepian. Kadang ada sedikit sesal di hatinya dan ia merasa bahwa hatinya terlalu keras. Sementara Amy yang semakin menawan membuat beberapa pemuda Jatuh hati, bahkan salah satu teman Laurie melamarnya. Pada akhirnya mereka akan menemukan jalan hidup masing masing, mencari makna dan kebahagiaan hidup.

Review novel Good Wives (Little Women 2)

Buku ini membuatku tertarik sejak dari desain sampulnya. Latar belakang sampul buku ini membuat buku ini tampak seperti buku tua, sebagaimana umur ceritanya. Ilustrasi empat tokoh gadis March berbalut gaun khas klasik dalam sampul ini membuat suasana cerita ini terasa meski belum membacanya. Sejak aku dibuat jatuh cinta dengan cerita Little Women bagian 1, (ulasan novel Little Women bisa dibaca di sini), aku tidak ragu-ragu untuk melanjutkan membaca novel Good Wives yang merupakan Little Women bagian 2. Dan aku tidak menyesali keputusanku tersebut.

Pada cerita keluarga March bagian kedua ini, tokoh gadis-gadis March tetap menjadi sorotan. Selain itu, tokoh-tokoh tambahan tidak jauh berbeda dengan Little Women. Beberapa tokoh yang baru yaitu Bhaer, dan anak-anak Meg. Kali ini karakter mereka telah lebih dewasa, meski sesekali tetap memerlukan nasehat dari Mrs. March.  Permasalahan semakin beragam, mulai dari cinta dan patah hati, hidup yang terasa tidak adil, merangkai masa depan, menghadapi tuntutan masyarakat, hingga kehilangan seseorang yang dicintai.

Sebenarnya konflik dalam cerita ini cukup dalam. Akan tetapi, gaya penceritaan penulis yang mengalir membuat konflik dan klimaks ini seperti tersamarkan. Bagi pembaca yang menyukai cerita dengan konflik yang menggebu-gebu, cerita ini mungkin terkesan datar-datar saja. Tapi bagiku, konflik cerita tidak harus membantai tokoh-tokohnya terlalu dalam. Sebagaimana kata Charlotte Bronte,

“para penulis novel seharunsya tidak boleh bosan mengamati dunia nyata. Jika melakukan kewajiban ini dengan sungguh-sungguh, mereka akan lebih sedikit memberikan gambaran yang dihiasi pola-pola terang dan gelap sangat kontras. Mereka akan lebih jarang mengangkat para pahlawan mereka ke tingkat kebahagiaan luar biasa, juga lebih jarang menenggelamkan mereka ke jurang keputusasaan yang dalam.” (Bronte, 2017:192).

Menurutku konflik dalam cerita ini cukup menghanyutkan.

Terkait: ulasan novel The Professor, Charlotte Bronte

Sebagaimana judulnya, Good Wives, yang berarti istri-istri yang baik, novel ini banyak membahas tentang perempuan dengan segala pilihan dan perjuangan hidup, mimpi, dan perannya di tengah keluarga maupun masyarakat. Ketika perempuan telah menikah, ada banyak tanggung jawab dan peran yang harus ia pikul. Hal itu kadang tidak disadari oleh pasangannya maupun perempuan itu sendiri, sehingga tidak jarang hal tersebut mendatangkan perselisihan dalam rumah tangga, sebagaimana yang dialami Meg, yang mulai kerepotan mengurus pekerjaan rumah tangga, anak-anak, dan suaminya.

Perempuan dengan Segala Pilihan Hidup, Cinta, dan Cita-Cita

Ada banyak pelajaran hidup dan petuah dalam novel ini, jika pembaca tidak merasa digurui. Tokoh Mrs. March berperan penting dalam penyampaian petuah ini. Meski petuah-petuah disampaikan Mrs. March untuk anak-anaknya, petuah itu seperti disampaikan penulis kepada pembaca. Latar belakang penulis yang berasal dari keluarga pendidik, dan ayahnya yang seorang transendentalis sepertinya turut mempengaruhi ide-ide dalam penyampaian cerita ini.

Berbagai permasalahan perempuan yang telah menikah tampaknya menjadi faktor pemilihan judul novel ini. Beberapa perempuan mengalamai banyak peruahan dalam dirinya setelah ia menikah dan mengurus rumah tangga. Ia tak lagi memperhatikan penampilannya, tak lagi punya waktu untuk dirinya sendiri, beban pikiran bertambah, hinggga perselisihan dengan suaminya karena suaminya merasa tak lagi diperhatikan. Pekerjaan menurus rumah, anak-anak, dan suami telah menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Romantika pernikahan hanya dirasakan pada awal-awal pernikahan. Setelahnya, satu demi satu kemelut kehidupan berumah tangga mulai menghampiri. Ketika perempuan tersebut menggunakan hak untuk menghibur dirinya sendiri, ia merasa bersalah karena sama saja dengan meninggalkan anak-anak dan pekerjaan rumah. Keluarga kecil Meg adalah potret perempuan dengan permasalahan tersebut. Ia merasa semua urusan rumah harus dikerjakan olehnya sehingga ia sulit menerima hiburan dan bantuan yang ditawarkan suaminya.

”Pria malang itu mersa begitu merana, karena anak-anak telah mengambil sang istri darinya; rumah tidak ubahnya seperti tempat pengasuhan anak, dan ‘hus’ yang diucapkan berulang kali membuatnya merasa bagaikan pengganggu sadis setiap kali ia melangkahkan kaki ke dalam istana suci Kerajaan Bayi.”(hlm. 252)

Tokoh Mrs. March yang bijak menjadi penyambung pesan tentang perlunya berbagi peran dan kerja sama yang baik antara suami istri. Bagaimanapun juga, anak-anak tetap memerlukan didikan seorang ayah, dan seorang istri perlu waktu untuk dirinya sendiri. Jika keduanya bisa berbagi peran dengan baik, maka pekerjaan akan terasa lebih ringan. Kesehatan mental dan fisik seorang istri membawa pengaruh terhadap keluarga. Perempuan yang bahagia akan membawa kebahagiaan dalam keluarganya, begitu pula jika perempuan itu banyak tekanan mental karena beban pekerjaan rumah. Seperti pesan Mrs. March kepada Meg,

“Kaulah matahari di keluarga ini; saat keadaanmu layu, maka tidak akan ada cuaca cerah di sini.” (hlm. 257).

Memiliki dan mewujudkan impian adalah hak bagi semua orang, termasuk perempuan yang telah menikah. Apalagi jika cita-cita itu mulia, dan membawa manfaat untuk banyak orang. Tidak dapat dipungkiri bahwa mewujudkan mimpi besar memerlukan privilise. Tak jarang orang harus banyak berkorban untuk mewujudkan mimpinya, atau bahkan berhenti di tengah jalan karena tidak memiliki privilese. Hal ini yang menjadi semangat bagi Amy, Laurie, dan Jo untuk membantu orang-orang tak berprivilese jika mereka kelak menjadi orang kaya.

Selain itu, novel ini secara tidak langsung mengungkapkan pandangan penulis tentang bagaimana orang terhormat (terutama perempuan) harus bersikap dan berperilaku. Penulis tidak memberikan pandangannya secara mutlak, tetapi menampilkannya melalui perbedaan pendapat para tokoh-tokohnya. Justru menilai kehormatan seseorang tidak bisa didasarkan dari satu kriteria mutlak.

***

Novel ini membawa banyak pesan-pesan kehidupan. Bagi perempuan, menikah dan menjadi seorang istri bukan berarti tidak bisa melakukan hal yang bermanfaat. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan dan kita pelajari. Setiap orang memiliki pilihan hidup masing-masing dengan segala konsekuensinya. Selama pilihan hidup itu baik, tidak ada salahnya bagi kita untuk mendukungnya. Sebenarnya banyak hal yang bisa dibahas dalam novel ini. Akan tetapi, karena keterbatasanku dalam menuliskan review, banyak hal penting dalam novel Good Wives yang mungkin tidak terbahas.

Terjemahan novel ini cukup baik dan enak dibaca. Sebaiknya sebelum membaca novel Good Wives, teman-teman membaca dulu novel Little Women. Novel ini cocok untuk teman-teman yang mencari hikmah kehidupan. Kepada teman-teman perempuan, barangkali kisah ini ada yang serupa dengan pengalaman hidup teman-teman. Untuk menutup review dari novel Good Wives ini, kukutip sebuah pesan dari Mrs. March kepada Meg, anak sulungnya.

“Jangan sembunyikan dirimu dalam tempurung hanya karena kamu perempuan. Alih-alih pelajarilah apa saja yang tengah berlangsung, dan didik dirimu sendiri agar kau bisa turun tangan di tengah masyarakat, karena hal ini akan mempengaruhi dirimu dan keluargamu.” (hlm. 258).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.