novel little men (anak-anak plumfield)
fiksi,  Genre Buku,  Klasik,  ulasan

Review Novel Little Men (Anak-Anak Plumfield) – Louisa May Alcott

Novel Little Men karya Louisa May Alcott ini sudah kubaca sejak Januari dan sudah kuselesaikan pada awal Februari. Tetapi ulasannya baru bisa kuunggah sekarang. Akhir-akhir ini minat baca dan menulisku sedang buruk sekali. Setelah kemrin Januari tidak membaca banyak buku, Februari sepertinya tidak jauh berbeda. Setelah dengan susah payah melawan kemalasan dan mood yang tak kunjung datang, akhirnya aku bisa menyelesakan ulasan novel Little Men ini.

Aku membeli dan membaca novel Little Men karena sejak aku kenal dengan Little Women, aku menjadi suka dengan karya-karya Louisa May Alcott. Jadilah serial dari Little Women ingin kubaca semua. Little Men adalah cerita ketiga setelah dari buku Little Women. Jadi, bisa dibilang, Little Women adalah tetralogi. Meski pada awal-awal Little Women digabung dengan Good Wives, tetapi sekarang Little Women dan Good Wives dibagi menjadi dua bagian. Jadilah empat cerita bersambung dari Little Women. Yang kedua adalah Good Wives, yang ketiga adalah Little Men, dan yang keempat adalah Jo’s Boys. Aku berencana untuk membacanya nanti.

Beberapa tokohnya adalah tokoh-tokoh yang ada di Little Women dan Good Wives. Akan tetapi Little Men tidak lagi berfokus tentang perjalanan Gadis-Gadis March. Mereka sudah berpencar dengan kesibukan dan kehidupan masing-masing. Little Men lebih fokus tentang anak-anak laki-laki asuhan Mr. Bhaer dan Mrs. Bhaer (Jo March) di Plumfield.

Identitas Buku

Judul: Little Men, Anak-anak Plumfield

Pengarang: Louisa May Alcott

Penerjemah: Djokolelono

Tahun terbit: 2015

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Ukuran buku: 432 hlm; 20 cm

ISBN: 978 602 03 2273 5

Sinopsis Novel Little Men (Anak-Anak Plumfield)

Little Men bercerita tentang kehidupan anak-anak di Plumfield, sebuah sekolah asrama yang diasuh oleh Mrs. Bhaer dan Mr. Bhaer. Sekolah di Plumfield sangat menyenangkan sekali. Semua anak-anak (yang sebagian besar adalah laki-laki) mendapatkan fasilitas yang sama sesuai dengan kemampuan mereka. tidak hanya berkutat pada pelajaran teori, Mr. Dan Mrs. Bhaer mengizinkan anak-anak Plumfield berbisnis untuk belajar mencari uang. Lingkungan belajar dan tempat tinggal yang menyenangkan membuat Nat, anak baru di Plumfield yang sebelumnya tidak memiliki rumah, merasa mudah beradaptasi.

Satu hari Nat bertemu dengan kawan lamanya semasa hidup di jalanan, namanya Dan. Kepada Dan, Nat bercerita tentang Plumfield yang menyenangkan. Pikiran kanak-kanaknya yang polos membuat Nat dengan yakin menawarkan Dan untuk belajar dan tinggal di Plumfield. Tentu saja Nat berpikir bahwa Plumfield terbuka dan akan menerima anak dari manapun yang meminta tempat untuk berteduh. Tetapi rupanya Mrs. Bhaer tidak langsung menyetujui. Meskipun Plumfield diniatkan untuk memberikan pendidikan tanpa memandang status sosial, gender, dan ras, akan tetapi Mrs. Bhaer tidak bisa menerima begitu saja orang tak di kenal. Anak-anak terlantar yang kemudian berada di Plumfield adalah mereka yang telah mendapat rekomendasi dan testimoni berkelakuan baik dari para orang-orang yang dikenal baik oleh Mrs. Bhaer dan Mr. Bhaer.

Tetapi Mrs. Bhaer tidak ingin memuat Nat sedih dan membuat Dan kecewa. Ia juga mengingat kembali niat awalnya yang ingin mendidik anak-anak yang dilabeli ‘nakal’. Akhirnya, Mrs. Bhaer  memberikan kesempatan kepada Dan untuk tinggal di sini dengan syarat Dan harus mematuhi peraturan yang ada di Plumfield. Tetapi ternyata mendidik anak-anak yang dibesarkan oleh kehidupan yang keras tidak mudah. Kehidupan jalanan yang keras masih menyisakan keberandalan dan kekasaran dalam diri Dan. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Mrs. dan Mr. Bhaer.

Tokoh-Tokoh dalam Novel Little Men

Seperti yang telah dijelaskan di sinopsis, tokoh yang ada di novel Anak-Anak Plumfield ini banyak. Sebagian tokoh di sini adalah tokoh dari novel Little Women yang sudah semakin tua. Nah, mari kuperkenalkan pada tokoh-tokoh dan anak-anak di Plumfield yang bermacam-macam karakter.

  • Mrs. Bhaer. Mrs. Bhaeradalah Josephine March yang sebelumnya menjadi salah satu tokoh utama dalam novel Little Women. Di Plumfield, ia juga dipanggil Mrs. Jo oleh anak-anak atau bibi Jo oleh keponakannya. Mrs. Bhaer adalah orang yang mewarisi tanah Plumfield ini dari bibi March. Menciptakan sekolah seperti Plumfield adalah mimpinya.
  • Mr. Bhaer. Mr. Bhaer adalah suami Mrs. Bhaer yang juga seorang professor. Jika di sini mungkin seperti guru. Wawasannya yang luas dan kepribadiannya yang bijaksana membuat ia disukai banyak orang dan anak-anak di Plumfield.
  • Demi dan Daisy. Sepasang saudara kembar, keponakan Mrs. Bhaer. Mereka adalah anak dari Meg March, kakak Mrs. Bhaer. Demi adalah seorang kutu buku dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia juga anak yang sopan dan tidak pernah membuat masalah dengan temannya. Daisy senang memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah.
  • Tommy. Nama aslinya adalah Thomas Bangs. Ia adalah anak Plumfield yang paling banyak polah dan paling sering terkena masalah akibat polanya sendiri, tetapi tidak pernah kapok-kapok. Ia senang berbisnis.
  • Nat. Ia adalah anak jalanan yang kemudian mendapatkan rekomendasi dari Mr. Laurie untuk dititipkan di Plumfield. Nat anak yang pemalu tetapi pandai bermain biola.
  • Dan. Teman Nat ketika menjadi anak jalanan. Wataknya keras dan kasar. Ia juga mengalami banyak masalah ketika berada di Plumfield. Tetapi Mrs. Bhaer tak pernah berhenti berharap bahwa suatu saat Dan akan menjadi anak baik.
  • Rob. Anak sulung Mr. Bhaer dan Mr. Bhaer. Dibandingkan anak-anak di Plumfied, ia masih sangat muda. Tetapi Rob tidak pernah mau ketinggalan dengan segala kegiatan anak-anak Plumfield.
  • Teddy. Anak kedua Mr. Bhaer dan Mrs. Bhaer, adik Rob. Bicaranya masih cadel. Tetapi Teddy adalah anak yang paling akrab dengan Dan. Kepada Teddy lah Dan tampak memiliki sisi lembut dan pengayom. Hal ini pula yang membuat Mrs. Bhaer sedikit-sedikit mulai menaruh percaya dan rasa bangga pada Dan.
  • Franz. Keponakan mr. Bhaer. Ia adalah anak paling tua di Plumfield. Ia juga kadang diminta untuk menjadi asisten mengajar ketika Mr. Bhaer berhalangan.
  • Nan. Anak perempuan di Plumfield selain Daisy. Ia adalah anak yang tidak pernah mau dianggap lemah oleh anak laki-laki. Ia juga anak yang sangat aktif, pemberani, dan banyak penasaran. Ia juga disebut sebagai Nona Huru-Hara.

Tokoh lain yang tidak begitu banyak detail, ada Emil, George si Gendut, Billy, Dick, Dolly, dan Jack yang suka duit, dan beberapa tokoh dari keluarga March.

Ulasan Novel Little Men (Anak-Anak Plumfield)

Mengapa tempat tinggal dan belajar anak-anak di cerita ini bernama Plumfield? Apa karena tanahnya banyak tanaman plum? Ohoho, bukan. Lebih tepatnya aku tidak tahu. Penulis tidak menjelaskan mengapa tanah dan rumah warisan bibi March ini bernama Plumfield.

Seperti dua kisah sebelumnya, Litle Women dan Good Wives, cerita Little Men memuat banyak pelajaran hidup. Tapi kali ini sepertinya penulis ingin fokus kepada potret pendidikan anak-anak. Mrs. Bhaer menggunakan warisannya di Plumfield untuk membuat sekolah yang terbuka bagi semua kalangan dan dengan biaya yang murah. Ini seperti mimpinya semasa muda yang diceritakan di Little Women atau Good Wives (aku lupa). Ia ingin memberikan pendidikan untuk anak-anak laki-laki yang selama ini banyak mendapat stigma nakal dan susah dididik. Oleh karena itu, murid-murid di Plumfield kebanyakan adalah anak laki-laki. Mrs. Bhaer memiliki keyakinan yang kuat bahwa pendidikan di Plumfield bisa menjadi salah satu model sekolah yang baik.

Mrs. Bhaer juga menggabungkan laki-laki dan perempuan dalam satu sekolah. Sebuah hal yang tidak umum bagi sekolah-sekolah di Amerika Serikat pada masa itu. Selain karena tidak ingin memandang gender untuk hak pendidikan, Mrs. Bhaer berpandangan bahwa keberadaan anak perempuan akan membawa pengaruh baik bagi anak laki-laki.

“‘Bukankah kau meramalkan bahwa menggabungkan anak laki-laki dengan anak perempuan akan gagal total? Kini lihatlah hasilnya,’… Daisy merupakan unsur keibuan dan mereka merasakan daya tariknya yang tenang. Nan sebaliknya mewakili sifat wanita yang keras kepala, selalu gelisah, dan penuh semangat. Anak-anak lelaki mengagumi keberaniannya dan memberinya kesempatan untuk melaksanakan kehendaknya, melihat Nan memiliki perasaan dan kekuatan untuk melakukan sesuatu yang lebih di dunia kecil mereka. Bess memiliki sifat seorang putri, penuh dengan keindahan pribadi yang wajar, gaya, dan kecantikan. Secara tak sadar ia ikut mengilapkan anak-anak lelaki itu. Ia mengisi tempatnya seperti setiap wanita cantik melakukannya, menggunakan pengaruh lembutnya untuk mengangkat mereka ke tingkat yang lebih tinggi daripada kehidupan kasar, dan menjadikan mereka tuan-tuan dalam arti yang terbaik dan terhalus di dunia tua kita.’”

(hlm. 422-423).

Mungkin ada dari kita yang merasa kutipan tersebut terasa berlebihan. Terkesan menuntut perempuan untuk memiliki sikap yang dapat membuat hati laki-laki berubah. Ini juga menjadikan penulis membuat anak-anak seolah berbuat baik karena agar disukai orang lain, bukan karena kesadaran diri bahwa berbuat baik itu perlu untuk menciptakan kehidupan yang tentram. Tapi menurutku wajar jika penulis berpendapat demikian karena ini konteksnya adalah pendidikan anak. Bagaimanapun juga, jiwa dan hati manusia terbentuk karena banyak faktor, entah dari dalam atau dari luar. Tidak murni terbentuk sendiri. Lingkungan, secara tidak langsung juga mempengaruhi bagaimana pola pikir dan sikap seseorang. Menghadirkan teman-teman yang baik di lingkungan pergaulan anak-anak akan menularkan energi baik untuk anak-anak tersebut.

Mungkin teman-teman juga berpikir, tidak menutup kemungkinan jika anak baik yang diniatkan menjadi penebar kebaikan untuk teman-temannya justru tertular sifat buruk dari teman-temannya yang dianggap memiliki perangai buruk. Aku juga berpikir demikian ketika membaca buku ini. Tetapi penulis sepertinya tahu ganjalan di pikiran pembaca. Dihadirkanya tokoh Dan dan Nan ke dalam cerita. Dan adalah anak jalanan yang tidak pernah merasakan kehangatan rumah. Sisa-sisa kehidupan di jalanan membuatnya keras dan kasar. Meski demikian, tekad Mrs. Bhaer untuk mendidik Dan menjadi anak yang baik tidak juga surut. Ia selalu optimis bahwa Dan bisa berubah menjadi anak yang baik. Akan tetapi sepertinya karakter seseoang sulit diubah. Alih-alih Dan yang tertular sifat baik dari anak-anak Plumfield, justru anak-anak Plumfield lah yang terpengaruh dengan keberandalan Dan. Begitu pula ketika Nan datang ke Plumfield. Nona Huru Hara ini bukannya tertular kelembutan Daisy dan keteraturan di Plumfield. Tetapi Nan justru menjadi salah satu sumber masalah di Plumfield.

Inilah yang menjadikan cerita ini lebih realistis. Mengubah perilaku seseorang tidak mudah. Apalagi jika orang tersebut telah mendapat label buruk dan tidak pernah dipercaya orang lain. Penulis tidak membuat cerita ini terkesan terlalu fairy tale dengan membuat perjalanan Mrs. dan Mr. Bhaer mendidik anak lurus-lurus saja. Aku senang penulis tidak membuat tokoh utamanya memiliki sifat terlalu sabar dan terlalu pintar dalam menangani masalah. Tokohnya cukup manusiawi.

Menurutku cara keluarga Bhaer menghadapi anak-anak yang dianggap nakal ini menarik untuk dibahas. Mereka tidak memberi label buruk kepada anak-anak nakal seperti yang dilabelkan orang-orang diluar. Mereka mencoba mengalihkan kenakalan anak-anak ke hal positif lain yang bisa dijadikan pelampiasan. Seperti ketika Dan yang keras dan selalu ingin berkelahi. Ketika Mr. Bhaer mengetahui keberandalan Dan kambuh dan a memukul Jack yang mengganggunya, ia tidak secara langsung menghakiminya. Mr. Bhaer meminta Dan untuk melampiaskan kemarahannya dan keinginan untuk memukulnya kepada akar-akar pohon yang perlu dipotong.

“’Jika kau ingin mengadu kekuatan, kucarikan lawan yang lebih kuat daripada Jack,’ kata Mr. Bhaer, mengajak Dan ke halaman tempat memotong kayu api…

‘Iihat itu. Jika kau ingin melepaskan energimu, tak usah memukuli anak-anak lain. Datanglah kemari, bergulatlah dengan akar-akar itu. Aku akan sangat berterima kasih karenanya.’”

(hlm. 319)

Begitu pula ketika Jo melihat kenakalan Nan dari sisi lain. Jo melihat keberanian yang dimiliki Nan dibalik kenakalan dan keurakannya. Keberanian Nan tersebut membuat ia tidak takut untuk mengobati anak-anak yang terluka, atau menggunakan jarum untuk mengambil serpihan kayu yang masuk ke kulit anak-anak. Jo melihat potensinya untuk bisa menjadi seorang dokter, sebagaimana impian Nan sendiri.

“Fritz, aku tahu apa yang harus kita lakukan untuk anak itu. Dia menginginkan sesuatu untuk tujuan hidupnya. Bahkan sekarang ini. Dan dia akan menjadi wanita yang ketus, kuat, dan tak pernah puas jika tujuan itu tak dicapainya. Jangan sampai sifat tak pernah bisa diamnya itu kita padamkan. Beri dia pekerjaan yang disukainya. Dan pelan-pelan kita bujuk ayahnya untuk menyekolahkannya ke kedokteran. Nan bisa menjadi dokter yang sangat baik. Dia punya keberanian, saraf kuat, hati yang lembut, dan rasa cinta serta iba yang besar untuk mereka yang lemah dan menderita.’”

(hlm. 292).

Sepertinya penulis berpandangan bahwa kenakalan adalah akibat dari bibit potensi yang tidak diarahkan. Aku pernah mendengar model pengasuhan yang seperti ini. Anak yang aktif dan cenderung melakukan hal-hal yang dianggap membahayakan, diarahkan ke hal positif lain yang bisa dijadikan tempat untuk ‘melampiaskan’. Misal anak yang susah diam, suka bergerak diberikan kursus gymnastik, atau anak yang dianggap cerewet sekali justru diajak belajar penyiaran radio, bercerita, atau pidato. Meski tidak seratus persen akurat dan terjamin keberhasilannya, akan tetapi kurasa ini lebih baik daripada melabeli anak dengan sebutan nakal dan membiarkan sifat tersebut terus berkemang hingga dewasa.

Bagian menarik lain dari cerita ini adalah, banyak karya-karya dari buku, drama, atau puisi yang dimasukkan ke dalam cerita. Hal ini secara tidak langsung memberi pembaca rekomendasi sekaligus wawasan mengenai karya sastra yang cukup tua. Selain ditampilkan dalam penjelasan tertulis, drama klasik juga ada yang dtampilkan dalam bentuk permainan para tokoh. Tokoh anak-anak Plumfield diceritakan memerankan drama Cinderella. Cerita Cinderella yang diperankan adalah cerita versi asli yang masih gelap bukan yang versi fairiy tale. Padahal yang memerankan anak-anak kecil, haha.

Sampul dan Cetakan

Little Men cetakan tahun 2015 ini didesain dengan sampul berlatar warna cokelat seperti buku tua. Lalu ada gambar beberapa anak di tepian halaman depan. Di pojok kiri bawah ada anak yang sedang memberi minum kuda. Sepertinya itu Dan dengan anak kuda Mr. Laurie. Lalu di pinggir kiri agak ke atas ada anak yang sedang memainkan biola. Sepertinya itu Nat. Lalu di tepi kanan, ada dua anak yang berdiri di depan pintu rumah yang di atasnya ada bendera Plumfield. Aku tidak bisa menebak, siapa mereka.

Pada beberapa bagian karakter, seperti pada objek pohon dan rambut anak laki-laki, ada aksen garis-garis yang sepertinya menjadi salah satu ciri khas ilustrasi karya Ratu Lakhsmita Indira. Lalu judul cerita dan nama pengarang berada di tengah. Seperti terjemahan novel klasik tebitan gramedia yang lain, cap mawar merah tidak ketinggalan di pojok kanan bawah. Aku pribadi lebih menyukai desain sampul Little Men yang ini daripada yang baru dengan latar putih. Bagiku yang ini lebih terasa klasiknya. Sayangnya pada cetakan ini ada kesalahan penulisan halaman. Antara daftar isi dengan halaman buku tidak sesuai. Mungkin yang cetakan terbaru sudah dibetulkan.

Penerjemahan

Mengapa Little Men diterjemahkan menjadi ‘Anak-Anak Plumfield’, bukan ‘Pria Kecil’ saja? Penerjemahan judul ini modelnya mirip dengan penerjemahan ‘Little Women’ yang diterjemahkan menjadi ‘Gadis-Gadis March’, bukan perempuan kecil, atau wanita kecil. Jadi, penerjemahan judul dari Little Men menjadi Anak-Anak Plumfield ini lebih mengacu pada garis besar isi cerita ini dibanding terjemahan secara harfiah judul aslinya. Karena buku ini bercerita tentang kehidupan sehari-hari anak-anak yang tinggal dan belajar di Plumfield, maka judul buku ini diterjemahkan menjadi ‘Anak-Anak Plumfield’.

Ah, tumben sekali aku membahas terjemahan dari sebuah buku dengan sub judul sendiri. Biasanya juga hanya kubahas sekilas atau bahkan tidak sama sekali. Tapi aku tergerak untuk membahas lebih banyak mengenai terjemahan buku ini. Sebenarnya penerjemahan buku ini tidak buruk kok. Bagus, nyaman dibaca. Hanya saja beberapa bagian masih terasa kasar dan seperti masih mengunakan makna literal. Beberapa kata juga tidak konsisten, misal penerjemahan kata “you” yang ditujukan kepada orang yang lebih tua. Ada yang diterjemahkan sebagai “Anda” tetapi juga ada yang diterjemahkan sebagai “kau”. Jika melihat budaya masyarakat kita, sepertinya lebih cocok jika kata “you” yang ditujukan kepada orang tua diterjemahkan menjadi “anda” semua. Bukankah begitu? Tapi aku senang, penerjemah selalu memberikan catatan kaki untuk setiap kata-kata yang memerlukan keterangan, misal penjelasan nama-nama tokoh yang tiba-tiba muncul, judul lagu, puisi, atau buku yang ada di cerita ini. Hal ini membantu pembaca untuk semakin memahami konteks dari klaimat-kalimat yang ada dalam cerita. Pejelasan tentang beberapa tokoh di catatan kaki juga membantu pembaca yang membaca Anak-anak Plumfiled tanpa membaca Little Women terlebih dahulu.

Rekomendasi

Aku merekomendasikan buku ini untuk teman-teman baca. Bagi teman-teman yang menyukai cerita yang heartwarming, buku ini cocok untuk dibaca. Ceritanya sangat menghangatkan hati, sama seperti dua novel karya Alcott lain yang pernah kubaca. Novel ini menyisipkan banyak pelajaran kebijaksanaan hidup. Sepertinya ini memang menjadi trade mark Alcott ya? Jika melihat latar belakang keluarga penulis yang menjunjung tinggi nilai moral, maka tidak heran jika karya-karya Alcott selalu menyisipkan pesan moral.

Quotes / Kutipan Menarik dalam Novel Little Men

Untuk menutup ulasan ini, aku ingin membagikan beberapa kutipan yang menarik yang memuat pesan-pesan dari novel Little Men karya Louisa May Alcott yang telah diterjemahkan oleh Djokolelono. Berikut kutipannya.

“Rasa simpati adalah sesuatu yang indah, dan perasaan itu membantu menciptakan hal-hal ajaib.” (hlm. 52).
“Beri seorang anak keterampilan dan dia akan jadi manusia bebas. Bekerja itu menyehatkan. Apapun bakat yang dimiliki anak-anak ini – apakah menulis puisi atau mencangkul ladang – haruslah diasah dan dijadikan berguna untuk mereka, jika mungkin.” (hlm. 70).
“Ilmu mendidik adalah mengetahui apa yang bisa dilakukan anak-anak kepada sesamanya dan bagaimana membaurkan mereka.” (hlm. 133).
“Kebaikan dalam perbuatan dan kata-kata serta perilaku adalah wujud kesopanan. Siapapun bisa memilikinya, kalau saja mereka bisa memperlakukan orang lain seperti mereka ingin orang lain memperlakukan mereka. (hlm. 139).
“Kasih sayang memaniskan semua hal yang tidak enak.” (hlm. 268).
“Kebaikan yang murah hati dan sederhana adalah modal terbaik untuk membangun bisnis dalam kehidupan ini. Itu abadi, sementara kemasyhuran dan uang bisa habis. Dan hanya itu yang bisa kita bawa saat meninggalkan dunia.” (hlm. 372).
“..., dengan mencoba untuk selalu membuat ibunya hangat, dia telah menghangatkan hatinya sendiri.” (hlm. 398).

Sekian ulasan novel Little Men (Anak-Anak Plumfield) karya Louisa May Alcott. Semoga bermanfaat. Jika ada pertanyaan atau diskusi bisa disampaikan lewat komentar di bawah ya!

Sampai jumpa di ulasan selanjutnya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.