novel orang-orang oetimu
fiksi,  ulasan

REVIEW NOVEL ORANG-ORANG OETIMU KARYA FELIX K. NESSI

Novel Orang-Orang Oetimu ditulis oleh Felix Nessi, penulis asal Nusa Tenggara Timur. Novel ini dinobatkan sebagai pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018. Novel ini diterbitkan oleh Marjin Kiri, cetakan pertama pada tahun 2019. Adapun novel Orang-Orang Oetimu yang ada di tanganku ini cetakan ke-tiga, tahun 2020. Pada bagian depan buku ini terdapat daftar istilah-istilah dalam bahasa Timor yang digunakan dalam novel ini. Pada cover belakang, terdapat tanda 19+. Artinya, novel Orang-Orang Oetimu ini ditujukan bagi pembaca yang berusia di atas sembilan belas tahun.

Sinopsis

Sebagaimana judulnya, Orang-Orang Oetimu, novel ini menceritakan kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur pada masa kolonial hingga masa orde baru. Konflik Indonesia dengan Timor-Timur masih memanas saat itu. Tersebutlah Am Siki, seorang pendongeng serta tetua di Oetimu. Orang-orang menghormatinya karena ia adalah seorang pahlawan bangsa. Ia pernah mengalahkan lebih dari sepuluh  penjajah Jepang ketika masa romusha. Kekuatannya didapat dari pohon lontar. Ia percaya bahwa leluhurnya terlahir dari pohon lontar dan akan selalu mati dinaungi lontar pula. Am Siki semakin dihormati ketika ia menjadi satu-satunya orang yang bisa menangani Laura, perempuan yang disangka penyihir yang membahayakan kampung karena lebih mirip hantu daripada seorang perempuan.

Laura adalah anak tentara Portugis yang ditempatkan di Timor-Timur setelah revolusi Anyelir. Ia menjadi korban pemerkosaan para tentara ketika militer Indonesia menduduki Timor-Timur pada tahun 1974. Orang tuanya dibantai oleh para militer Indonesia karena disangka bagian dari Fretilin. Laura hamil tapi sangat kurus, buruk rupa, dan sakit kulit karena disiksa oleh para tentara dan tidak makan berhari-hari. Setelah dirasa tidak berguna oleh para tentara, ia diminta untuk pergi. Sampailah ia di kampung Oetimu, ditakuti warga, lalu dirawat Am Siki hingga ia melahirkan anaknya, yang diberi nama Ipi. Siprianus Portakes Oetimu.

Ipi muda tumbuh menjadi seorang polisi yang semena-mena. Ia suka mencari-cari kesalahan orang dan menyelesaikan masalah menggunakan fisik. Ia juga disegani karena ia diasuh oleh Am Siki.

Sementara itu di gereja ada Romo Yosef. Romo Yosef adalah seorang pastor muda yang disegani. Karena sebuah tuduhan dan permasalahan internal gereja, ia dipindahkan ke SMA Santa Helena. Di sana Romo Yosef membangun kembali SMA Santa Helena. Sekolah yang tadinya sudah tertinggal itu kini menjadi sekolah yang semakin bagus dan terkenal. Setiap siswa yang mendaftar harus lolos tes seleksi. Pembayarannya juga mahal. SMA Santa Helena menjadi semakin komersiil dengan diadakannya pesta setiap akhir tahun. Sebenarnya Romo Yosef mencintai perempuan aktivis yang bernama Maria. Tetapi statusnya sebagai calon pastor membuatnya dilema antara memilih menjadi pastor yang berarti mencinai Tuhan atau menikah dengan Maria yang dianggap akan menggadaikan cintanya pada Tuhan. 

Di SMA Santa Helena juga ada seorang murid yang sangat cerdas, Silvy namanya. Tetapi juga ada guru yang bodoh, Linus namanya. Kebodohannya pula yang membuat Silvy keluar dari sekolah favorit tersebut, lalu akhirnya bertemu dengan Ipi, cucu Am Siki. Mereka berdua jatuh cinta. Profil Ipi yang seorang aparat membuatnya mendapatkan hati Silvy dengan mudah. Mereka berencana menikah setelah melakukan perbuatan terlarang. Akan tetapi rencana mereka harus menghadapi cobaan pada malam final piala dunia.

Opini

Ketika aku membaca novel Orang-Orang Oetimu, aku menerka-nerka, ini siapa tokoh utamanya? Novel Orang-Orang Oetimu menggunakan banyak tokoh sebagai fokus penceritaan. Tokoh Sersan Ipi muncul paling banyak, tetapi menurutku ia bukan satu-satunya yang berperan penting dalam menentukan jalan cerita. Tokoh utama yang lain ada Am Siki dan Romo Yosef. Tokoh-tokoh tersebut diceritakan secara terpisah-pisah, akan tetapi ternyata mereka saling berhubungan. 

Ada tokoh yang menurutku kehadirannya terlalu tiba-tiba yaitu Atino. Tokoh ini tidak diceritakan secara detail dan hanya muncul dalam tiga bab, tapi menjadi penentu akhir cerita. Ada juga tokoh Martin kabiti. Tokoh ini berhubungan dengan tokoh Atino. Akan tetapi untuk mengetahui hubungan mereka aku harus berkali-kali membolak balik halaman yang menceritakan kedua tokoh itu. Saya salut pada penulis, dengan ketebalan 220 halaman, Felix mampu menceritakan peristiwa yang komplek dengan banyak tokoh dan latar waktu cerita yang panjang.

Novel ini menyajikan banyak tradisi dan budaya masyarakat Timor zaman dahulu. Misal tradisi sifon. Ada juga tradisi dongeng untuk anak-anak. Ketika sore hari anak-anak akan mendengarkan dongeng di tempat pendongeng. Selain itu novel ini juga menggambarkan perilaku pejabat yang penuh pencitraan, frater gereja yang mesum dan suka main perempuan, aparat yang semena-mena, dan aktivitas mahasiswa yang dibatasi oleh pemerintah masa orde baru.

Novel ini diceritakan dengan gaya bahasa yang cenderung sarkas tapi jenaka, dan ini menarik. Novel ini menyampaikan kritik sosial lewat keluguan dan kebodohan tokoh-tokohnya. Kadang aku dibuat tertawa dengan keluguan para tokohnya yang juga dikemas dengan gaya bahasa yang jenaka. Tapi aku sedikit terganggu dengan 19+ yang ada dalam novel ini.  Menurutku terkesan dilebih-lebihkan dan terlalu barbar untuk sebuah novel pilihan Dewan Kesenian Jakarta. Atau mungkin aku saja yang terlalu naif? 

Novel ini membuatku menyadari kalau Indonesia pernah menjadi penjajah terhadap Timor Timur. Di manapun, penjajah itu pasti kejam. Ya, Indonesia pernah kejam pada Timor Timur. Novel ini mengajak kita untuk memandang konflik Indonesia dengan Timor-Timur dengan sudut pandang berbeda.

Baca juga: Ulasan Novel Memoar Seorang Dokter Perempuan

Baca juga: Rekomendasi aplikasi untuk baca ebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.