ulasan novel laut bercerita
fiksi,  ulasan

Ulasan Novel Laut Bercerita (Agak Sedikit Jahat)

Ulasan Novel Laut Bercerita- Novel Laut Bercerita telah banyak diperbincangkan. Entah melalui diskusi, resensi, dan ulasan di berbagai media. Perbincangan tersebut menghasilkan banyak apresiasi bagus terhadap buku ini. Ada pembaca yang menyatakan kalau Laut Bercerita adalah buku favoritnya. Banyaknya penilaian yang menunjukkan betapa bagusnya sebuah buku kadang membuatku merasa berdosa jika tidak membacanya. Oleh karena itu, aku pun mencoba membaca sebuah karya sastra yang cukup fenomenal ini.

Novel Laut Bercerita

Judul: Laut Bercerita
Pengarang: Leila S. Chudori
Penerbit: KGP (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun terbit: 2023 (Cetakan ke-66)
Ukuran buku: 13,5 cm x 20 cm
Jumlah halaman: x + 378 hlm.
ISBN: 978-602-424-694-5

Sinopsis Novel Laut Bercerita

Presiden Soeharto masih bertahta di istana negara meski ia bukan raja yang kekuasaannya seumur hidup. Pemerintahannya banyak menyengsarakan rakyat kecil. Masyarakat tidak bebas berekspresi. Dari luar, Indonesia boleh saja diesegani. Akan tetapi tubuh negara itu sendiri sebenarnya sakit. Pemerintah menggunakan kekuasaannya bukan untuk memperbaiki nasib rakyat, melainkan untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri. Atas dasar inilah para mahasiswa dari berbagai kampus saling berkonsolidasi merencanakan gerakan untuk menurunkan Soeharto.

Laut, Kinan, Bram, dan kawan-kawan sesama aktivis sedang menjadi buronan pemerintah. Mereka tidak melakukan kejahatan. Akan tetapi, mereka membantu rakyat untuk melawan kesewenangan pemerintah.

Para aktivis tersebut kemudian ditangkap. Dalam penangkapan tersebut, Laut dan kawan-kawan mengalami banyak penyiksaan. Disetrum, diinterogasi di atas dipan es, dipukul, ditendang dengan sepatu bergerigi, dan lain-lain. Yang selalu menjadi pertanyaan para aktivis itu adalah, bagaimana setiap aksi mereka selalu ketahuan para aparat. Mereka mencurigai ada seorang di antara mereka yang menjadi mata-mata. Dan dugaan itu benar setelah Laut melihatnya sendiri di tempat penyiksaan. Orang itu asyik menyaksiakan penyiksaan sementara ia menggigil dan menahan sakit.

Di tengah penangkapan dan penyiksaan yang dialami Laut, di rumah, keluarganya senantiasa menunggunya untuk pulang. Setiap sebulan sekali di akhir pekan, keluarga Laut selalu mengadakan agenda makan bersama. Sang ibu dengan antusias memasak tengkleng kesukaannya. Bapaknya selalu menyiapkan empat piring: untuknya sendiri, untuk ibu, untuk Asmara (adik Laut), dan untuk Laut. Akan tetapi, pekan itu, Laut tak pulang seperti biasanya.

(Maaf atas sinopsis yang gagal)

Ulasan Novel Laut Bercerita

Aduh! Mau disebut ulasan kok sepertinya kurang pas. Pasalnya, tulisan ini lebih ke arah ungkapan perasaan yang cenderung ke arah julid daripada ulasan secara objektif.

Sebenarnya aku tidak yakin kalau aku akan suka dengan buku ini. Baru sampai halaman awal saja aku sudah merasa enggan dan bosan. Rasanya ingin menutup buku ini tanpa menamatkannya. Akan tetapi, aku tetap mencoba melanjutkannya meski tidak terlalu antusias dan dengan ceritanya.

Lalu mengapa kamu tetap membacanya jika memang kamu tidak menyukainya?

Ini bukan tentang suka atau tidak suka. Tidak semua topik yang tidak kusukai lantas aku tidak membacanya. Begitu pula tidak semua topik yang kusukai lantas aku akan membacanya. Membaca buku bukan perihal suka atau tidak suka, tetapi perihal perlu dan harus.

Terlalu banyak rekomendasi tentang buku ini. Terlalu banyak penilaian bagus tentang buku ini yang sampai kepadaku. Penulisnya saja telah mendapatkan banyak penghargaan bergengsi. Novel ini juga yang membawa penulisnya mendapatkan penghargaan SEA Write Award. Begitu banyak apresiasi terhadap buku ini seolah buku ini adalah wajah dari sastra Indonesia moderen. Setiap ada buku yang banyak dinilai bagus dan banyak diperbincangkan di forum-forum literasi, apalagi dinilai baik oleh kritikus, aku merasa aku harus membacanya. Meski penilaian kritikus bukan satu-satunya tolok ukur diterimanya sebuah karya di masyarakat.

Ini bukan tentang FOMO (Fear of Missing Out). Akan tetapi, tentang isi buku yang perlu kuketahui. Sebuah ulasan, selengkap apapun itu, tidak akan bisa menggantikan isi dari buku asilnya.

***

Akhirnya aku bisa menyelesaikan buku ini. Sebelumnya aku ingin menyudahinya di tengah-tengah karena merasa tidak bisa menikmati ceritanya.

Novel ini banyak menggunakan gaya hiperbola. Hiperbola tersebut banyak tersebar dalam penggambaran karakter-karakter novel. Ini malah membuatku merasa jenuh dan berujung sebal, hoho. Tidak, aku bukan pembenci hiperbola. Hanya saja aku merasa hiperbola dalam novel ini tidak memperindah bahasa dan ceritanya.

Entah mengapa aku merasa sebal dengan tokoh-tokoh dalam certa ini. Tidak hanya pada jongos-jongos penguasa yang mencari uang dengan menyiksa sesama manusia, tetapi juga tokoh-tokoh mahasiswa. Aku sebal pada Kinan yang tukang ngatur, sebal pada Naratama yang keminter dan kemampleng, juga sebal pada Laut yang naif, seperti maba idealis yang kecucuk doktrin senior.

Penggambaran karakter aktivis dalam novel ini justru mengingatkanku pada aktivis-aktivis kampus yang omongannya sangat tinggi tetap nol tindakan. Ada yang jarang masuk kelas tapi hobi mengkritik kurikulum dan perkuliahan di kelas, begadang ditemani kopi dan rokok sembari mendiskusikan pemikiran Tan Malaka hingga seolah mereka lebih paham dari Tan Malaka itu sendiri, merasa bacaannya paling berat, memuja pemikiran kiri dan liberal, tetapi menganggap cupu kawan-kawan yang mempertahankan sebagian nilai moral tradisional. Konservatif katanya. Bagi mereka, konservatif adalah kekolotan. Tugas hanya numpang nama, kelas hanya titip absen, dan tidur saat dosen menjelaskan atau kawan sedang presentasi. Alasannya karena sibuk menyiapkan aksi, dan acara-acara diskusi. Terlalu malu untuk beralasan malas. Setelah itu mereka akan memenuhi bangku-bangku diskusi dengan asap rokok.

Akan tetapi, aku paham bahwasanya Bram, Kinan, Laut, dan kawan-kawannya bukanlah mereka. Bram, Kinan, Laut, Gala Pranaya dan kawan-kawannya pasti pasti adalah refleksi Wiji Thukul dan kawan-kawannya yang hilang, atau mungkin juga Munir dan Marsinah meski mereka berdua bukan aktivis 98. Alih-alih seperti yang kusebalkan, aku yakin novel ini bermasud mengajak kita untuk menolak lupa terhadap penghilangan paksa tiga belas aktivis 98 dan kasusnya tak diusut hingga tuntas. Aku tidak memungkiri perjuangan para aktivis 98 dan penghilangan mereka harus dipertanggungjawabkan.

Aku sempat bertanya-tanya, jika kelak Bram dan Kinan mendapat kekuasaan, apakah mereka menggunakan kekuasaan itu untuk memperjuangkan nasib rakyat kecil, ataukah sama dengan penguasa yang hanya mementingkan diri sendiri? Akan tetapi, setelah membaca hingga akhir cerita, pertanyaanku itu terjawab sendiri. Bram dan Kinan tidak akan pernah menduduki kursi penguasa.

Novel ini mengangkat isu yang berat dan sensitif tapi eksekusinya kurang sampai. Cara penulis menggambarkan beratnya permasalahan dan penderitaan yang dialami tokoh-tokohnya rasanya kurang mengena meskipun ada adegan penyiksaan. Ini menurutku. Menurut orang lain belum tentu.

Tokoh-tokoh perempuan di sini seperti dibuat alpha semua, kecuali ibunda Laut. Kinan yang dominan, Anjani yang selalu mengambil inisiatif, dan Asmara yang harus mengatasi semua masalah. Di luar hiperbola dalam penggambaran karakternya yang bikin mual, ini bisa jadi angin segar bagi pembaca yang jenuh dengan karakter perempuan yang selalu kalah dari kejahatan, pasrah dengan keadaan, dan selalu menangis.

Dari tokoh Laut dan kawan-kawannya yang dihilangkan, novel ini seolah ingin menyuarakan pada dunia tentang sebuah kekuasaan yang otoriter, suara-suara yang dibungkam, kebenaran yang dilenyapkan, keadilan yang diabaikan, dan kemanusiaan yang dilupakan.

Keluarga laut dan keluaga aktivis yang hilang turut mengungkapkan bagaimana kesedihan orang-orang yang kehilangan anggota keluarga mereka karena memperjuangkan keadilan. Mereka tak pernah lelah mencari tahu kabar orang-orang terkasih yang tak diketahui rimbanya dan tak ada pertangungjawaban dari penguasa.

Terkait: Resensi Buku Animal Farm-George Orwell: Kritik Terhadap Sebuah Kekuasaan

Kesimpulan

Apa yang kutulis tidak mewakili penilaian umum terhadap novel ini. Jika aku tidak terkesan dengan sebuah novel, bukan berarti novel itu jelek. Jadi, apakah novel ini recomended untuk dibaca? Kalau melihat reputasi novel dan sepak terjang penulisnya sih, iya. Apalagi, kalau kamu mahasiswa sastra Indonesia. Mungkin kamu malah diwajibkan membacanya. Tapi kalaupun kamu tidak mau membacanya, ya, itu hakmu.

Akan tetapi, bagaimanapun penilaianku terhadap buku ini tidak akan mengubah pandangan umum bahwa Laut Bercerita adalah salah satu karya sastra Indonesia yang layak untuk kita ketahui.

***

Sekian ulasan (yang lebih banyak julidnya) novel Laut Bercerita dariku. Teman-teman sudah baca novel Laut Bercerita? Bagaimana kesan kalian terhadap novel ini?

Satu Komentar

  • neila

    Ketemu sama web ini ketika iseng nyari cara baca buku di ipusnas. Terus penasaran di pos terbaru kok ada ulasan novel ini. Novel yg bikin aku pengen baca bukunya di ipusnas hehehe. Makasih kak, ulasannya. Bagus banget tulisannya. Akan aku tetep coba baca bukunya kalo udah dapet nanti, kali aja bisa lebih relate dengan ulasannya (atau mungkin tidak).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *